12.26.2008

Wanita Bermata Biru

pun jika nanti kau tiba dalam temaram
aku masih mengenang baumu yang kususun rapat
menjadi setumpuk taman
kan kau dengar decak kumbang yang sujud pada setangkai mawar memberi isyarat
untuk mata birumu yang berkedip malu

12.16.2008

Masa Kamboja baru kutabur

layaknya inilah yang kau sebut pertempuran hati
dimana aku harus keluar masuk rahim lara
oh kau yang sedang menunggu waktu
sebegini nyatakah cerita ini menjadi kisah yang teruntai

jangan kau lupa katamu di dalam sesak-sesak nafasmu
terakhir ini aku membulir air mata untukmu
kutinggalkan kau sebab senjaku tiba
hitung butir pasir itu, lalu gumul ia menjadi jejak.setelah itu kau taburi kamboja dikuburku

yah begitulah
dimana yang tertinggal adalah aku
mengusung bayangmu selalu
hingga beribu musim berlalu

12.15.2008

Orang-Orang Lapar

carut marut
pagi buta dibentak nasib
siang diperdaya nasib
malam dirajam nasib
lalim benarkah kau yang menganiaya ku yang belum makan

*Revisi*

12.14.2008

Sajak Terluka

legam nian
sengketa
sajak terluka
dimuntah dusta penyair
berlinang-linang
memohon ampunan

12.09.2008

Hingga Setan pun Terharu?

setan mengeja puisi
dari menunduk
hingga tersedu
"apa yang ditulis penyair hingga setan pun terharu?"

12.07.2008

DirumahMu air mataku derai

aku yang terpaut jauh dari jalan menuju janjiMu
berlama-lama di gaduh penggoda dari bara api nerakaMu
semakin tenggelam ku sujudkan diri dalam rumahMu
Mekah yang berselubung takbir membuncah air mata

Mimpi

purnama di ujung mata memecah buih di angin
melabuhkan segenggam asa dalam bukit-bukit menjulang ke awan
menyunting wanita-wanita yang tak pernah di caci terik
hingga membayang udara dalam tarikan nafas adalah surga

teruslah menjejak pasir-pasir dalam angkasa lamunan
membumbung memuncak menanggalkan beban di pundak
mengayuh setingi-tingginya kesenangan
meramu mimpi di kutub bumi dini hari

Duhai Nestapa

Duhai nestapa
perihnya sudahlah senja
bak peniti luka mencucuk usia
renta ia dirundung air mata

duhai nestapa
tanggalkan ia yang diujung sana
gemetar tegak lapuk dicerca genangan siksa
merenda duka merajut derita

duhai nestapa
tiada usai jua padam kobaran dera
dari satu darah kedarah matanya
menukiklah tajam sembilu dipangkal lehernya

Sumbang

terkutuklah
cinta yang berderak-derak di pangkalan telinga
mengingang laju kumuh
bersenggama hina kau bertanya pada sengsara

sepasang sekoci berlumur lumut
membatu bersama karang
daripada kau terjungkal ke lautan
mari kita eja perhelatan dengan semestinya

terkutuklah
cinta ditambah cinta menjadi sampah
terciumi sengatan membesarkan arwah di dalam kubur
sungguh..kuncilah hati sebelum kau terbawa digiling kunyah

peradaban kau gilir dengan martabat sumbang
kau gulai mentah dalam belanga kubangan air mata
mendidih jantung kesumat menatap mata tersumpal bara
jangan cinta kau ucap perlahan pada yang lapar di pesisir hujan

pejabat desa bersukutu dengan setan dengan tengkulak
merajai iblis dalam sumpah serapah memutar masa
duh..sampai setega ini cinta mereka simpan pinjamkan
terkadang gadai sudah dalam meja perjamuan bersama pimpinan setan

Badai anak nelayan

pecahan kaca dalam air mata
menitikan racun dalam gamang
menyibakan luka-luka seperti terbawa ombak
kepedihan yang teramat menganiaya sudah singgah dalam senja

ada dua bocah setengah berbaju
berbaris di jilat badai
menelentang menantang hujan
sementara di balik punggung-punggung mata kail menancap pongah

anak nelayan dalam persaksian
menghitung setiap derak nyiur yang mengerlap merantai kunang-kunang
melambung setinggi bintang-bintang kejora
menyapu langit dengan ijuk luka dan lidi nestapa

12.03.2008

Maaf…Kau Terlambat Datang Jandaku

Mungkin kau angin yang datang dengan mata berkaca-kaca
Tiada mungkin bisa ku sambut kau berlutut
sembari memakai senyum lama
menyuguhkan senja penyambutan dengan pertunjukan maha bahagia
sadarkah apa yang kau lakukan akan menjadi luka yang berulang
sebab lembaran cerita yang kususun sampai sedih lembab sudah berkecamuk tempias

terlalu larut aku menantimu dibalik tirai yang tak pernah kau singkap
sampai aku hampa menghamba pada kesunyian
menjatuhkan tetes belulang yang lebur
menganaktirikan kebahagian yang seharusnya kubesarkan
sementara kembali itu kutunggu dengan berkecamuk ragu
hingga terompet penanda babak kita telah usai menggema lantang
kau berakhir,tanpa ada harapan sebab telah kumulai episode baru dengan peran sama
ijab kabul telah yakin kuucap kembali dengan penyerahan menyeluruh

Untuk Istri Baruku, Sarina

Berdoalah kau Sarina
Agar aku bisa luput dari bayang-bayang lama
Cemburu saja sebab dengan itu aku merasa dicintai
Tak perlu kau beradu kata, asam garam cinta dan tipu daya sudah begitu akrab denganku

Sarina istri baruku yang ku nikahi tadi pagi
Aku pemain lama yang sudah mulai lupa dengan lapangan yang akan kumainkan
sejak gawang dibawa pergi bersama mantan istriku 6 tahun lalu
dan selama itu aku tidak turun lapangan

Sarina maafkan aku
Diam-diam aku memetik mawar yang pernah ditanam mantan istriku dibelakang rumah
Itulah yang kusematkan ditelingamu senja ini
Mungkin inilah serah terima cinta menurutku

Mari kita mulai babak ini
Semoga malam ini rahimmu meramu janin laki-laki
Aku berharap akan ada yang menemanimu setelah aku mati
Menjaga saat godaan suami baru mengganggumu

Segelas jamu kuat kutelan habis
Lampu mati
Aku memulai kewajiban
Setelah itu tak mampu kuceritakan
Saat terbangun sekujur tubuhku keletihan

Pledoi Puisi keduapuluh

majemuk sudah perasaan
tanpa kompromi mengaduk-aduk hati
membuat cita rasa
yang akhirnya asin, seperti air mata

berbeda jauh
antara tadi malam dan siang ini
tetapi tetap hadir menghakimi
aku yang menjadi tersangka dalam pengadilan hidup

puisi kedua puluh yang aku tulis siang ini
menjadi pledoi yang kubaca diam-diam
maafkan
aku menyesal..

Tanpa Judul hanya kerinduan

aku yatim
di lahirkan sama dengan kelahiran ayahku
tentu berbeda tahun
ah untuk apa ini ku sebutkan

aku dahaga
dalam kerinduan
belaian ayahku
mungkin itu yang ingin kusampaikan

Perjanjian Siang Ini

Berdendang sendiri aku siang ini
Menutup diri
Mengurung hati
Mengunci akal
Dalam perenungan panjang melelahkan
Sebuah kesimpulan
“berjanjilah… untuk tidak bolos kuliah lagi”

Pesan Untuk Guru

Untuk guru di republik ini
Selamat siang
Ajarkan anak bangsa ini tentang kehidupan
Semoga kelak mereka hidup dalam kedua belah kaki mereka sendiri

Hitungan Detik

Tepat 11.52 siang
Tiga desember duaribu delapan
Usiaku hari ini
Bertambah beberada detik

Sawah-sawah Harapan

Sawah-sawah harapan
Menumbuhkan benih-benih hidup
Yang tertanam seperti esok
Menjadi penjaminan akan kelangsungan

Silahkan berganti musim
Deraskan hujan
Terikkan mentari
Hidup akan terus berputar bersama jarum waktu

Inilah nyata
Detik ini..
Yang belum sempat tertulis sudah berganti ke detik berikutnya
Begitu singkat

Tanam harapan
Tumbuh kembangkan hidup
Dalam waktu Yang melaju
Akan seperti apa esok yang masih tetap misteri

Warisan

Manakala
Aku berhenti menulis
Maukah kau
Menjadi saksi bahwa aku pernah disini menulis

Manakala
Aku berhenti hidup
Maukah kau
Menjawab bahwa aku pernah hidup disini

Aku berharap kau menjadi roh hidup dariku
Melahirkan jiwaku
Menjadi ganti abadi dari ketidakabadian ku
Menjadi pelipur lara atas kerinduan

Kau yang ku tulis
Ku wariskan akal pikirku hari ini
Dalam bentuk mu
Jadilah saksi hidup dalam kematian ku kelak

Kau yang tertulis
Menjadi tulisan
Adalah kisah panjangku
Yang bercerita pada malam dan siang saat aku berhenti menikmatinya…

Satu-satunya

Satu-satunya
Keinganan adalah harapan
Dan harapan akan hidup bersama gerak-gerak mu
Ibu yang masih bekerja sampai dini hari untukku

Satu-satunya
Hidup dalam kehidupan
Adalah ibu
Yang hidup dalam sanubari bersama harapan

Satunya-satunya
Harapan
Adalah ibu
Yang tulus memberi harapan dalam kehidupan

Wakil Rakyat Para Pedagang Sayur

Kapan
Pedagang sayur punya wakil rakyat pedagang sayur
Dalam gedung rakyat
Yang bangga hanya makan sayur

Intelektual Penjajah

Tolak Bungkam
Judul orasi mahasiswa pagi ini
Sementara
Ia begitu kenyang dalam kebungkaman itu

Hidup Mahasiswa
Teriakan yang semakin parau
Bahkan sumbang
Karena ia begitu kenyang dalam teriakan sumbang itu

Hidup Rakyat
Teriakan yang semakin sepi
Bahkan mencibir mengejek
Karena ia begitu kenyang meneriakkan cibir pada keramain kelaparan

Mau jadi apa kampus ini
Jika potret yang kau tampilkan
Adalah drama kekenyangan bersama jamuan penguasa
Intelektual penjajah akan terus lahir dari rahim kampus yang lupa ingatan

Kawan-Kawan Anti Kemapanan

Bebaskan aku seperti mu kawan
Bawa aku mengais hidup
Seperti harapmu yang begitu liar
Hingga jalan ini kau maknai sebagai kehidupan

Kau memetik ia dari setiap tangkai
Kau terjemahkan wanginya menjadi mawar
Ku resapi ia menjadi keindahan
Yah.. kau begitu menikmati hidupmu kawan

Saat-saat kapan kau sedih ;tanyaku memasuki ruang anganmu
Hanya gelengan kepala ; begitulah perasaan
Damaikan hatimu dengan maha penyerahan dalam ikhtiar
Niscaya kan kau dapati guru kehidupan yang berada di hati mu selalu

Duh kawan
Kau seniman hidup
Memerankan peran yang kau sutradarai sendiri
Dalam naskah yang kau tulis sendiri
Dengan latar yang kau susun sendiri
Disini Aku setia menunggu pementasanmu berikutnya

Entahlah

Arus air di danau kehidupan
Semakin beriak
Sementara aku tau ini begitu dangkal
Ada apa dengan hidup ini yang entahlah

Enggan

Enggan
Aku menuntaskan kebosanan
Yang bercengkerama bahagia
Dalam detak kehidupan ku siang ini

Enggan
Aku memilih jalan
Sementara Begitu syahdu irama terik
Membakar ku dalam-dalam hingga menjadi abu

Enggan
Aku tau ini seperti lelap
Apapun mimpi
Toh kesadaran adalah kenyataan

Duh…
Jalan ini menuju apa ya?
Perdebatan dalam diri semakin nyata
Aku betah memuja kebebasan
Sementara persekutuan penguasa buas menyeretku dalam aturan edan

Umpama Ini adalah Perang

Umpama ini adalah perang
Antara setan dan malaikat
Yang beradu dalam hati
Maka aku adalah pedang setan yang menembus kulit malaikat

Mengapa demikian
Tanya bumi dan langit
Sebab aku membunuh kebajikan dalam hati
Dengan genggaman kebathilan

Umpama ini adalah perang
Aku adalah pengukir kisah
Yang melakonkan kejahatan
Hingga pertumpahdarahan pecah antara kedua sisi kehidupan

Baik dan buruk
Hitam dan putih
Setan dan malaikat
Telak saat ini, aku berada di golongan hitam bersama setan yang buruk

Umpama ini adalah perang
Yang beradu dalam hati
Sungguh..
Maafkan aku.

Apa Lacur..!!!

Apa daya upaya
Saat usai itu ku beri tanda terima
Perjanjian tentang esok
Ku ukir berani seperti pemimpi

Apa lacur
Tentang aku yang mengaku aku
Tentang pecundang
Melacurkan diri dalam angan

Hisap sebatang rokok
Mengepulkan resah
Membawa pesan tentang kisah
Pemuda desa pulang menghadap rumah bersama luka

Kematian Harap

iringan-iringan pembawa sesal
di tandu lah kecewa dalam keranda luka
terseok-terseok menuju rumah tanpa secercah cahaya
para pelayat sinis menatap, mencibir dengan gerah

aku didalamnya
terbaring kaku menunduk ke tanah
sangat sempit rongga dada
seperti adegan kematian yang berbeda kisah

dalam tandu ada kecewa
dalam keranda ada luka
dalam iringan ada sesal
bersorak pelayat mengarak kegagalan yang belum dikafankan

Aku Telah Menuai Sesal Bu…

jari-jari ibu
ku iris dengan debu
ku sayat dengan abu
hingga lumpuh ibu membelaiku dalam lelap

tunduk ibu
semakin ku tekuk dalam
lelah ibu
ku lelahkan dengan sesal

masihkah ada tempat
untuk harapan yang pulang dengan sesal
sambutan apa ya ibu
jika kau dengar aku menceritakan kegagalan

Harapmu dik

untuk adikku yang berharap
jangan kau temui aku saat ini
aku sedang berlumur duka
mungkin saja tiada lagi esok untuk kita bercerita cita

maaf dik
aku memilih jalan salah
entah di persimpangan mana aku ragu memilih langkah
hingga dihadapku jurang ini tiba-tiba menganga

aku harapmu dik
yang tiada memberi harapan
maafkan abang ya
yang telah usai dalam kalah

Selamat Mati Kau Penyair

Syairku berlutut
Sajakku tunduk
Puisiku rebahitulah penggalan cerita

Tentang syair yang berlari pergi
Meninggalkan bait-bait yang belum tuntas
Jelas menipu diri ia penyair
Tertulis jelas “maaf, jika hidup adalah ini, maka aku pun memilih punah didalamnya”

Lagi tentang sajak yang membela diri
Telah mati ditinggal mati
Untuk apa kau penyair mencerca diri
Sedangkan malam masih saja kelam

diakhir kisah
rebahlah puisi sendiri
berkaca-kaca menatap nanar pada penyair
yang memilih pergi meninggalkan kisah

Gerhana Awal Desember

Gerhana itu telah tiba
Menyelinap daun-daun mata
Menjadi seonggok batu kali
Menghimpit ku yang benam di dalamnya

Gerhana yang kuandai menjadi kebuntuan
Pekat dan menampar-nampar
Kedua belah tangan yang mengarah muka ku sendiri
Sudilah kiranya waktu memutar lagi saat purnama

Mengapa disaat gelap ini
Aku mengingatmu sang cahaya
Mengapa disenja merah
Aku menganiaya diri menjadi durhaka

Harap kembalilah
Aku dirundung cemas yang begitu menyiksa
Langkahku hampir usai
Tinggalah sesal yang ku bingkis untuk cerita anak cucuku

Aku Tuntas Mak

Jika
Andai
Dan apabila
Saat logika hidup tanpa peranan menumbuk batas

Mencapai titik-titik yang kaku
Melontarkan kecendrungan mengakhiri perjalanan
Berhenti dalam garis gagal yang menjadi buaian proses panjang tanpa nilai
Dosa apa yang telah aku hamili hingga melahirkan janin pasrah

Tuhan
Aku takut
Sebentuk kecewa telah menampakkan diri
Angkuh berdiri di depanku menjadi bayangan ku sendiri

Aku pulang mak
Lagi-lagi dengan ketuntasan hidup
Sambut aku lagi
Yang telah kalah telak tanpa apa-apa.

11.28.2008

Gila

Bangsat
jangan panggil aku wakil rakyat
aku tak pernah jadi rakyat
kalau kau sebut lagi ku pecat kau jadi rakyat

ha...ha..ha
mau marah?
silahkan
hebat mana marah rakyat atau marah penguasa?

aku pejabat
kau cam kan itu rakyat.
sudah rakyat kok berani hidup?
mati saja sebelum nasibmu ku tiup

ha..ha..ha
itu ketawa pejabat
coba kau rakyat
ketawa pun bisanya pelan

aku pejabat
sering naik pangkat
uang berlipat
rumah bertingkat
makan uang rakyat
hushh..mulut bangsat
biasa bohong kok tiba-tiba jujur

Gelegar

tepat kau tusukkan maklumat itu di kepundan gundah
hingga seluruh rimbun galau tersibak menganga
menenggu lipatan pengkabaran itu terurai
mas aku mandul ; katamu sedu sedan

gelegar.!!
kudekap rahimmu yang akan selalu kosong
ku tiupkan nafasku yang sesak di ubun-ubun mu
menandakan aku mulai belajar tegar lebih dari ketakutanmu

mengurut dada sesabar-sabarnya
kutahan marah sejadi-sejadinya
mengapa sepagi ini kau bentur aku kabar buruk
bukan kah perjanjian itu tak pernah sadar kusepakati

jadilah ia cerita
seperti pasir sungai
terbawa hanyut
entah sampai di muara mana harapku kandas

11.27.2008

Haruskah aku SEKOLAH atau mungkin lebih baik SELAMAT TINGGAL SEKOLAH?

Saya punya keyakinan,
semakin seorang itu sekolah,
semakin tidak kreatif ia.
Karenanya, semakin takut dia mengambil resiko.....
Tak banyak yang menyadari
bahwa sejak sekolah,
sebenarnya seseorang telah menyiapkan diri
untuk hidup miskin

"Purdi E. Chandra"

Benarkah Sekolah Konvensional Indonesia adalah Sekolah yang Sebenarnya?

parameter :
harus mempelajari mata pelajaran trigonometri/matriks dll sementara anda bercita2 hanya menjadi seniman?

serba ketakutan dengan PR yang menumpuk sekalipun harus menyontek (selalu tertekan)
satu hari otak kita harus dibolak balik antara mata pelajar biologi/agama dan bahasa sekaligus (2 jam satu mata pelajaran)?

Disiplin yang begitu mengikat dengan penyeragaman secara total

Patuh kepada guru sepatuh-patuhnya sekalipun nilai kepatuhan itu terkadang tidak pantas dengan beragamnya pola tingkah pendidik

jika pendidikan itu hanya bisa diajarkan melalui Hati... ternyata Guru Killer selalu menghantui

setiap ajaran baru dan sekolah baru orang tua kurang mampu akan menambah/menumpuk hutang untuk membeli seragam/buku pelajaran dsb...

ketika sekolah seperti melebihi rumah ibadah..(banyak orang tua akan merasa marah besar ketika melihat anaknya tidak sekolah... tapi bagimana jika anak tidak beribadah?? apakah masih marah semarah anak tidak sekolah?

sekolah murah dan sekolah modren akan terus bermunculan di negara ini.. dan berbahagialah si kaya yang bisa masuk sekolah mewah dengan segala fasilitas.. bagaimana nasib simiskin?

dan ingat pada akhirnys ada standarisasi,,,standarisasi NIlai kelulusan Ujian nasionalstandarisasi IPK para pemburu kerja

satu guru berbuat salah dalam mentransformasikan ilmu maka seluruh murid akan terkena dampaknya.. dan jika satu murid salah tidak berpengaruh secara keseluruhan.. betapa mudahnya pertaruhan masa depan itu... (percaya kah anda guru/dosen itu layak menjadi guru/dosen..ingat izajah palsu/budaya mengopek dan mencontek.. budaya KKN... "bodoh berduit akan mudah" dan "Pintar tidak berduit akan jungkir balik....

dan pelembagaan pendidikan itu akan dilaksanakan selama 17 tahun usia anda... ditambah 5 tahun perkuliahan..

Sekolah yang Salah Kaprah?

tanya kak seto..
seorang pemerhati anak dan juga ketua KOMNAS perlindungan Anak.. mengapa beliau tidak memasukkan kedua anaknya di lembaga formal sekolah..

tanya lagi
mengapa pendidikan sekolah dasar harus 6 tahun?
mengapa SMP 3 tahun?
mengapa SMA 3 Tahun?
jika usia rata2 anak indonesia masuk sekolah adalah 5 tahun maka dibutuhkan masa selama 17 tahun hingga anak bisa selesai dan menamatkan diri dari jalan panjang sekolah...setelah itu masuk ke perguruan tinggi dan membutuhkan waktu 5 tahun untuk bisa meraih gelar sarjana.. berarti butuh usia 22 tahun untuk menjadi sarjana di indonesia...?? apakah runutan waktu ini tidak begitu lama?..
dan selama 22 tahun sistem pendidikan bersekolah memberi kewajiban kepada orang tua untuk terus memberi subisidi kepada anak.. (apakah ini bentuk sebuah kemandirian???

tanya lagi
untuk orang tuajika rata-rata usia pria indonesia berumah tangga adalah 27-28 tahun. pada umur 29 tahun akan mempunyai anak.. 29 tahun usia orang tua ditambah 22 tahun usia anak menamatkan pendidikan meraih gelar sarjana berarti pada usia 51 tahun lah orang tua indonesia bisa melihat anak meraih gelar sarjana,,, "butuh waktu lama ternyata"...

dan satu hal terpenting lembaga sekolah telah salah kaprah
lembaga sekolah bukan tempat ibadahsehingga menimbulkan kewajiban terhadap diri orang tua untuk menyekolahkan anak di lembaga sekolah.dan jika tidak menyekolahkan anak akan dianggap berdosa..dan lebih parah si anak secara tidak langsung akan keluar dari lingkungan pertemanan dengan usia (tidakkah kita sering mendengar "anak tidak sekolah adalah anak malas/anak nakal/anak bodoh???" dan "jangan berteman dengan si A yang tidak sekolah...

sistem sekolah secara tidak langsung menciptakan kasta dalam masyarakat...orientasi angka/nilai..itulah sekolah indonesia
nilai 10 adalah pintar
dan nilai 5 adalah bodoh
tapi sadarkah kita ada banyak permainan tolol dalam meraih nilai tsb
kopek dan contek
jangan bilang anda tidak pernah mengopek dan mencontek..dan jika ada yang siap mari kita buat penelitian berapa persen jumlah siswa pengopek dan pencontek di negeri ini?
atau lebih mudahnya berapa persen jumlah siswa yang masih tersisa yang tidak pernah mengopek dan mencontek di negari ini?
Akan adakah proses memanusiakan manusia dari tindakan ini?
Sementara sampai detik ini tidak ada penekanan yang tegas tentang kopek dan contek yang mungkin sudah mentradisi di negari ini.

(Sebuah Kegelisahan yang menggila.......)
mari kita berdiskusi
saran referensi
Dunia Tanpa sekola Karya M. Ihza
Selamat tinggal sekolah karya Yusran Pora
Sekolah itu candu karya Room Topatimasng

Aku Pencipta

Aku Pencipta
Yang suka bermain air dan api untuk mendingini dan memanas hati
Terkadang meyuruk kedalam gua penuh jaring laba-laba mencari kata
Aku gila dan merdeka dengan apa yang terlintas di kepala
Tapi aku tidak buta

Aku Pencipta
Dari segala apa yang kutumpah disini
Amarah yang ku lampiaskan adalah hembusan-hembusan dahsyat kepunyaanku
Silahkan menggelinding menjadi teriakan-teriakan nyaring
Tapi aku tidak tuli

Aku pencipta
Mencipta logika ku sendiri
Mencipta perasaan ku sendiri
Yang ku ciptakan wujudnya
Atas apa yang aku tuliskan disini
Aku pencipta
Hanya pada apa yang kutulis disini

Maut di Setangkai Mawar

hush..
jangan kau rendam takutku sampai mengigil begitu
cabut saja baik-baik seperti tembang kenanangan yang mengalun pelan
atau kau selipkan kabarmu pada setangkai mawar
sampai aku merasakan kau ada setelah aku menciumnya sampai ketiduran

sajak tentang kematian yang dicandatawakan
adalah ketakutan atas perlakuan bejatku
yang tega menghamili buaya di kandang singa
adakah maaf kebinatangan itu kudapatkan

kembali dosa menjadi kelakar pada sajak ini
mungkin saja aku menghibur diri
sebab sudah terlalu lama aku lupa cara bertaubat
uh.. aku lalai dalam waktuku sendiri

setelah canda tawa dan kelakar sajak usai
aku lupa beristigfar
ternyata maut benar-benar datang
menghadapku dengan amarah

apa jadinya
saat nyawa tercabut meronta-ronta berdarah-darah
pintu maaf sudah terkunci rapat
mampukah aku bersajak tantang siksa kubur
dengan kelakar?
dengan canda tawa?
dengan setangkai mawar?

11.22.2008

Surat Cinta Yang Belum Terkirim

aku memanggilmu sayang sepenuh malam
bagai detik waktu menjemputku dalam perenungan utuh perasaan
sambil bercerita lama kesunyian
kusadari..kau yang terindah ada untukku

wanitaku
sayap-sayap terbaikku
selalu setia membawaku terbang meninggi melewati hari-hari melelahkan
membawaku ketempat bahagia bersemayam

ketidaksempurnaan caramu mencintaiku
mengajarkan segenap nadiku untuk berkhayal tentang mu selalu
memasuki tempat terdalam
dimana hati harus kupahami sebagai tingkah yang tidak beraturan

selamat pagi cahaya
ada bintang ku titip di langit sebelah timur
silahkan kau jenguk ia dengan segenap rasa mu
semoga kau bisa merasakan apa yang kutuliskan adalah sebuah kebenaran

Perempuan Terakhir

pagi tepat setengah jam setelah kau pergi
aku masih sempat memuntahkan salahmu
melupakan perihnya dan akan menjadi kisah
tapi entah.. lakumu begitu mengusik

bahasa rindu mu sudah begitu kaku perempuan
tak mampu membuaiku seperti kecupan-kecupan awal pertemuan
inikah titik nadir pencarian, hingga pesona itu adalah angin..
tak mampu menggerakkan sehelai rambutpun dikepalaku

hinggaplah
diranting mana yang bisa
melihat nyata
atau akan terus membelah hari yang tidak semestinya

perempuan yang tersisa untukku
bawahlah aku semampumu
kemanapun kau menggiringku
kuturuti jika itu bisa membuat rasa memiiki itu kembali

11.21.2008

Duka Penyemir Sepatu

Aku menatap duka di bulir mata
yang tunduk menuju bumi
lalu derai ia tanpa suara
pulangkan ibu ku satu-satunya teriakmu pada gundukkan tanah merah

kematian itu nak
seperti nyanyian yang akan selalu bergema di setiap kehidupan
pasti.. ia jua menghampirimu
jangan sesali seperti kau menyesali penderitaan tanpa ampun

ambil kotak semir sepatumu
mulai dengan memacu selaju-lajunya lari
dapati harapmu yang kau pancang jauh
Tuhan lebih tau apa yang pantas untukmu

Dengan ini aku mengucap cinta

aku tidak mau tau
yang penting aku cinta kamu
titik

Bersambung

sejauh kaca itu masih membatas pandang
mungkin tak ada sua
selalu dan akan selalu wajahku bercermin sendiri
dimana kau oh kehidupan di balik sana..

tinggi setingi-tinginya ku lambung harap
berjingkat sudah aku menjangkau diatas anak tangga terakhir
toh keterbatasan ini seperti gerimis
menghujan pelan-pelan hingga kuyup

tak pantas ada lelah
tapi.. yah sudah lah
capek bicara saja
tunggu tanggal mainnya ya..

Klimaks

aku menjadi birahi
memasuki ruang sunyi
bersenggama bersama waktu
hingga klimaks itu ku pahami sebagai sebuah pencapaian

birahi menjadi keakuan yang merdeka
sampai kutafsirkan sunyi seperti lentara menyala dalam pergantian waktu
memecahkan terang bersama hembusan angin yang gugur dari perbukitan
menyibak keheningan dengan menhentak-hentak keduabelah kaki ku sendiri
aku mencintai gairah hidup
yang bergerak menjalar
berani pasti menuju satu titik
tidak mati kedinginan
bahkan bangkit dalam kesadaran
memerdekaan perasaan pada setiap hembusan nafas

ini kutulis dinihari
mengajak keseluruhan rasa dan pikir yang masih terjaga
bukan sekedar cengkrama lalu bias
tapi pengakuan akan seperti apa hidup ini mengalir tanpa beban
seperti yang kau katakan..
"rasakan ia sepenuhnya milikmu, yah hidup pastikan ia adalah sebuah keutuhan sebelum kau mati"...

11.14.2008

RANAH NATA




Ranah Nata
sampai ke ubun-ubun
biarlah ia terus bergetar seirama denyut nadi
sampai ada terang menunjuk jalan

Kutitip rumah
Padamu di garis gulungan ombak
Biar ku semai kerinduan seperti badaimu dilautan
Sampai dendang mu yang memanggil pulang kutunaikan





*Ranah Nata atau Natal adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara, Indonesia, di pantai barat Sumatera Utara. kehidupan masyarakat rata-rata bergantung dari sumber daya kelauatan. banyak potensi dan sumber daya alam seperti laut, hamparan pantai yang indah, kekayaan hutan.
menurut sejarah Multatuli pernah singgah disini ditandai dengan peninggalan sejarah seperti sumur multatuli, dan beberapa benteng-benteng peninggalan jepang belanda dan portugis.
dari sini lahir beberapa tokoh indonesia yang antara lain Sutan Takdir alisjahbana.

PESAN-PESAN RESAH

Ada lagi suara detak
Dari ruang sebelah sini
Tangis janin lagi
PATAH

Ada pesan
Dikirim bersama gulita
Remang-remang diusung dalam rintik hujan
JANIN MENCARI IBU DITENGAH MALAM

Duh manusia atau apalah..
Itu juga manusia
Yang kau keluarkan dari selangkangan bersama perih aliran darah
KODRATMU ADALAH IBU DAN HARUSNYA KAU TERISAK

Sudah sebegitukah manusia kehilangan rasa dalam kerakusan nafsu
Hingga kebiadaban itu masih jua terpelihara
Jangan kau letakkan ia di pembuangan sampah
YANG BINATANG SAJA TIDAK PERNAH MELAKUKANNYA

Itu yang ingin ku ucapkan diremang malam pada yang terluka

Bersama bayang-bayang wajah yang bercermin pada lukamu
Begitu banyak cuplikan-culikan entah tanpa rasa
Datar begitu saja menjadi segerombolan mimpi
Menjelma disetiap nyanyian malam

Desah hujan
Menyadarkan gerak-gerak mu yang menindih dedaunan jati kering
Tanpa pesan menantang atau mundur
Sampai titik penyadaran itu membentuk menu-menu harahapan

Menjadi lekat kental
Deritamu ku genggam menjadi keajaiban kesadaran
Menandakan batas-batas perlawanan
Mari ibu tua berairmata
Ikat erat harap yang menjadi kekuatan maha dahsyat
Sunggingkan senyuman lalu ucapkan selamat tinggal pada penderitaan

Peringatan Terakhir

mengepaklah sayap merpati di legian
Membawa rima-rima duka sampai ke puncak tertinggi di hempas angin jadi debu hilang
Sampai tak berasa berwarna berbau mendengar melihat menjamah tidak
Tidak ada kutuk tidak ada murka dan tinggalah jalan panjang yang harus digulirkan riang
Sampai batas ini kita berhenti dan memulai
Damai yang kita tentukan sendiri mekarlah menjadi pepohonan-pepohonan teduh
Jangan lagi tenggelam dingin beku curiga dan ketakutan
seperti manusia dan manusia saling tuduh tanpa alasan tanpa sesal
ingatkan kepadamu kepadaku kepada kita
besok masih ada anak cucu yang akan menghuni tanah ini
wariskan mereka peradaban dan cinta
hingga dan hingga tidak ada lagi dentuman dan perpecahan

Cerita Cinta Sebelas Maret

ambang senja Sebelas maret
kau melukaiku hingga diam
membekas berbunga
menyibak sayap-sayap putih diantara resahnya

menjadi luka terindah
diam aku bahagia dalam teduh tundukmu
kau sayat tipis kulit ariku menjadi gelora ragam rasa membuncah
ternyata cinta telah singgah tepat pada masanya

Awas Salah Kaprah

Aku Pensiunan teroris
Menjaring gerak diam-diam
Memupuk kesembuhan murka
Menunjuk-nunjuk kedamaian
Melumat dendam dalam bara api suci
Menangis
Meledakkan
Mematikan
Jilid kelam yang sudah tuntas kawan

Mungkin itu Mungkin Iya Mungkin Tidak

Mungkin sekolah gila
Angkuh Serakah
Adalah ketidakseimbangan dan egoisme membelah manusia diantara layak dan tidak pantas menindas ketidakmampuan dan ketidaksanggupan


Mungkin Guru gila
Seperti Manusia tanpa salah
Adalah kesombongan berdiri ceramah menularkan segala perkara pengetahuan membabi buta kesetanan hingga muntah kesia-siaan,kebosanan,kejenuhan dan ketakutan

Mungkin jadilah Murid gila
Sebab sekolah gila dan guru gila bersekutu padu/tutup mata/tutup telinga/tutup mata tutup rasa.

11.02.2008

kepada Kawan Lama

kalut
di sisi waktu berlutut
menggeranyangai lembah-lembah menutupi iringan tnpa pemandu
sebab apa aku mengikut

ada bisik
di tengah-tengah kepundan gundah
pasang lah mata dan telinga
di sekitar ada lawan berseragam permata

lumbung-lumbung sudah terbakar
tinggal perapian selamat tinggal
terhenyak aku semakin dalam
ternyata benar kabar,
ada maling bersembunyi di saku celanaku

10.28.2008

Jalan Perenungan

Renungkanlah
ada kah kau sedih melihat kesedihan?
ada kah kau bahagia melihat kebahagian?
ada kah kau ingat Tuhan mu?
ada kah kau merasakan?
mengapa Pencipta di pertanyakan setelah kesedihan dan kebahagiaan?
sebab kesedihan dan kebahagianlah yang selalu jadi ingatan
hingga cintaNya sering kau akhirkan

aku adalah dan sebagainya dan seterusnya dan lain-lain

dan sebagainya
adalah aku
juga dan seterusnya
adalah aku
apakah dan lain-lain
masih juga aku

mungkin aku adalah dan sebagainya
atau aku adalah dan seterusnya
bisa juga aku adalah dan lain-lain
aku siapa?
dan seterusnya dan sebagainya dan lain-lain
sebuah defenisi logis kah?
jangan jawab
sebab ini adalah soal ku
siapa aku adalah hak ku menjawabnya

Tuhan Tidak Tidur

dini hari
menelusup resah terjaga
sejurus mata menumbuk pancang waktu
pada mobil kaleng melaju kencang
menggantung setengah bangun
diatas keranjang sayur
ibu tua yang geli menahan dingin
tersendat nafasku
bersama embun
akal menyabarkan perasaan
dengarkan ini anak muda
Tuhan itu berbuat adil dua puluh empat jam
hingga sepagi ini rezeki pun masih ditabur

Antara Syair dan Penyair

pada sebuah pelita tidak bersumbu
aku menaruh harap pada malam menelikung gelap
mengikis apa saja
termasuklah cinta didalamnya

salah siapa camar menari di perbukitan
tak ingin menegur debur ombak
lebih manantang di pokok-pokok menjulang
pulang lah penyair berkelam-kelam

syair pun curiga
mengapa betah berlama-lama
sedangkan hidup tak ini saja
oh.. telah tergadai masa dalam semunya

10.27.2008

DEANI

kutemukan kau titik cahaya
dalam maret berkabut
di sudut ruang yang padam
membawa nyanyian bulan

Bohong Itu...!!!

Usang
tak ada nuansa apapun mengelayut dalam dinggin
diwarung diskusi
ada sepotong sajak sedang bermain
memintal helai demi helai ocehan iblis
tidak bertenaga
raungan nada-nada penghibur seperti peminta-minta
begitu komunis bagian waktu yang disinggahi
seolah-olah kesedihan milik bersama
tapi pada nyata
seorang tua ditikam hujan tanpa apa-apa
ada politikus
ada mahasiswa
menhisap
menikmati malam dengan pongah

10.25.2008

Swasembada Dosa

Ada perhelatan
hari ini dosa berpesta pora
mereka ramai sekali
ada yang senyum-senyum puas
ada yang tidur pulas setelah semalaman beranak pinak

tadi pagi negeri kami swasembada dosa
mungkin hampir musim kiamat
mayat bayi masuk tong sampah
salah apa mereka?
tidak tau apa-apa
kok tega-teganya manusia
anjing lah

siang ini panen dosa melimpah ruah
seperti pajak daging saja
kepala orang di tanam di ladang
kakinya hanyut di kali
badan di hempas angin di bawah jembatan
gak ada lagi kemanusiaan di sini
babi lah

10.24.2008

Puisi untuk Provokator

puntung rokok di jerami
menyulut amarah
ada kedengkian yang menggetar
tinggal menunggu ketukan

ini putih
ini hitam
di tengah ada setan
membingungkan

perang yang kau inginkan?
kan sudah.!
perpecahan?
apa lagi

yah sudah, tolonglah
tinggalkan luka ini untuk sejenak berbenah
jangan rendam lagi wajah kotormu disini
binatang saja, ingin tempatnya damai

Persepsi

jangan di paksa
turuni saja satu-satu anak tangganya
aku tak ingin kau disembelih pagi
bukan kah malam ini kita masih ingin melihat bintang bersama?

mengapa lagi kau ini
tidak kah jalan itu buntu
sudahlah jinjing sepatumu
mari kita lari

sobat yang dirundung basah
rehatlah sejenak
kau tempuh pun belum tentu sampai
atau kau mau di gigit anjing di seberang jalan

cuci dulu kaki
besok matahari masih tiba
tuturkan pikir dalam bahasa yang seirama
setelah itu kita eja hari dengan hentak langkah yang sama

10.23.2008

Perempuan dan Ajal

antara dua belah paha
sembilu menyibak
teriak cinta membahana
tentang segumpal darah hidup di rahim

mungkinkah sempat air mata membasah
di kening yang masih merah
geraham mengguncang saling mengapit
nyawa sesak menuju surga

lengkingan terakhir
aroma kematian membelah semesta
kesakitan terbawa
ketuban berontak membuncah di akhir

hanya sunyi dan gelengan kepala
dua sudah terbawa
betapa di tengah, antara kematian dan hidup
terimalah kabar duka

wanita bercahaya di pembaringan
bersama ajal
tiba lah takdir
ibu dan anak bersua di surga

Entah Apa Namanya

jangan cinta yang kau buat menjawab
terlalu kumuh kau menelantar di belantara
entah anjing apa yang sudah menjilati nafasmu
bahkan lenguhmu pun sudah berbau

bangkai yang hendak kau pertaruhkan dengan ku
cukup kau suguhi aku dengan dalil-dalil laknat
setelah itu kau cari kubur mu sendiri
lalu papah kerandamu dengan burukmu

apa yang ingin kau bawa untukku
sepasang payudara yang tergadai
atau anting yang tertindih ribuan nama
cari jalanmu
mungkin aku tak pantas jadi imam mu

Sebab Tuhan yang Mencipta

Pelacur-pelacur
berzinalah
jika tak menganggap dosa
sebab Tuhan yang mencipta

10.21.2008

Matilah Cinta yang Berat Sebelah

Beringsut Melati di akar mati
membawa terbang bergumpal asa
dan di tiangmu pun ku tancap galau
mengalah ia pada nestapa membekas rela

melati sesak padam juga
asa bersatu hujan
digumul gertak petir
layar tercabik di kuak camar
teruslah berirama isak dewa di bawah tanah

kan kau sangka akulah sebab?
tidak mungkin aku menggantung kaki
ajaib, kau tega menindih luka
pergilah, bungkusanmu tlah ku panah di depan jendela

sudah kubawa ke awan
janji yang ku pancang siang malam
salah mu juga betah menghitung diri
tiada mengulur tangan
sudah aku sengsara
memikul cinta berat sebelah

Terima Kasih Kawan

menjadi sebuah spirit..
hanya ketulusan yang menjembatani kita
semoga tuhan memberi masa
untuk terus berkarya..

http://kajapa.blogspot.com/2008/10/award-lagi.html

http://multama.blogspot.com/2008/10/award-dari-seorang-sahabat.html

Di seberang Sunyi menerjemah rindu

berlari sejauh mungkin
di tengah perapian basah
dalam relung jiwa
betah berlama-lama
dengan cara apa aku mendefini rasanya

kau ikat erat
seluruh pori-poriku
galau antah berantah
berkecamuk apa saja
duh.. mati-matian aku di dekapnya

ku hitung jumlah mu
namun gelap
ku tanam kau di ubun-ubun
namun akarnya aku tak tau

tinggalkan aku
tolonglah
sampai esok pagi saja
saat ku terjaga kan ku kejar kau di ujung mana

10.20.2008

Titip salam Untuk Calon Mertua

mengapa?
begitu tergesa-gesa
bukankah cinta butuh biaya?
aduh cinta
realistiskanlah hatimu
logikakan perasaan mu
paling tidak untuk sementara
kita hanya punya kekuatan
tapi belum bertunas
yah sudah
titip salam saja dengan calon mertua
katakan
calon menantu masih mencari mahar..

10.18.2008

kucintai kau dari bulu kaki

aku gamang mencintaimu sinta
sekalipun tadi pagi kau suguhkan aku secangkir kopi dan sekeping roti
sebab aku tak terbiasa sarapan pagi

tingkah dan langkahmu seirama
mana mungkin aku bisa menjelma disana

awalnya dari bulu kaki
aku bertaruh diri
rok mini sejengkal
mengundangku bertandang di pahamu

akhirnya kau gila
terpesona di legam kulitku
jadilah kita berucap cinta
sekalipun seperti sepatu di kanan sendal dikiri

aku gamang sinta
jika begini-begini saja


mimpi kok bercanda
harapnya ada-ada saja
aku bangun langsung cuci muka

Pertaubatan

aku terhenti di separuh malam
menembus muara angan-angan
bercampur aduk
bak rasa yang tak terjamah

akhirnya muncrat seepisode pementasan
lakon laki-laki dengan sorban melingkar
bersama kelam ia begitu manja
bermain dengan kata
begitu mesra

serak tapi menggemuruh
seperti melintasi seluruh apa yang di jagad bumi
tarikan nafasnya saja seperti irama paling indah yang pernah Tuhan ciptakan

kalimat Allahu akbar ia kumandangkan
sujud dirakaat pertama bersenandung dengan kepasrahan teramat dalam
masya Allah
aku merasakan ia seperti bertemu dengan Tuhannya
tiada bergeming
hanya desis-desis yang tentu untaian doa pertaubatan
lalu air mata derai di sajadah

peringatan telah "Ia" turunkan dihadapku
mungkin sebegitu ingkarnya hingga nyata didepanku "Ia" menemui ummatNya
mempertontonkan romantisme ciptaan dan pencipta
sungguh... adegan percintaan yang begitu tulus

perlahan kutanggalkan setan yang menjubahiku
ada tarik menarik yang begitu nyata
aku terkapar ditengah
ternyata bangkitku menuju jalanNya

wudhu menegurku
takbir menegurku
Al-Faatihah menegurku
Ruku' menegurku
I'tidal menegurku
Sujud menegurku
sampai doa pun menegurku

astaqfirullah
sudah begitu jauhkah?
sampai aku harus bersusah payah ikhlas memujiMu

10.16.2008

Amukan Tiada Bermata

Ceritanya, tersuruk sebuah catatan lama di sangkutan baju
Menggelantung bercumbu dengan udara
Lepaslah desah desah keriput
Tapi nyata menjelma bak kunang-kunang

Mulanya disiangi cinta dengan bulu-bulunya
Diperapian dikobarkan apa saja
Hingga lepas semua dan tanggal perekatnya
Namun ia menghantuinya dengan sebangsa ajian tanpa penawar

Luka menerawang menjelama dalam kutukan-kutukan
Penyeselan bertasbih gencar
Apa saja bergemuruh seperti suara maha memekikkan
Mengalirlah darah dari duapasang telinga dan mata

Cinta ditanggalkan
Dilumat bersama amukan amarah yang berputar kesetanan
Cemburu membabi buta melesat jauh dan laju
Menamparkan diri dalam wajah apa saja yang menampungnya

Berteriaklah apa saja yang menghadang
Demi cinta aku memulainya
Demi cinta Aku menyudahinya
Biarlah tidak bersisa
Sampai tidak berbekas

10.12.2008

Diantara Rimbun Ilalang


begitu teduh
saat ku tinggalkan engkau di depan pintu rumah yang telah lapuk
garis melengkung di wajahmu
yang ku terjemahkan sebagai doa dan kerinduan

sampai aku kembali
ibu selalu bersenandung untuk buah cinta
terus dan teruslah nak
demikian harap-harap cemas ibu bergumam

ibu
aku bersumpah dalam seluruh daya dan upaya
disepanjang usia yang masih melekat
aku akan meneguhkan sepenuhnya langkah mu
sampai aku harus terhenti mati

silahkan..
siapa saja yang mendengar
mungkin ini kalian terjemahkan menjadi kesombongon

tapi adakah yang tahu
derita ibuku
selain aku
melihat ibu tertidur duduk di depan mesin jahit tua
sementara malam terus melangkah

sepenggal yang membekas
untuk seumur hidup
"ibu bangun.. sudah pukul tiga dinihari
mari bu.!tidur kekamar"
aku kalah dengan air mata
sambil memapah ibuku yang begitu letih

9.24.2008

DI PUISI TERAKHIR AKU PAMIT




Maafkan
Puisi ku luka
Tulisan ku nestapa
Aku perlahan berderak patah

Aku pamit
Dipesan terakhir
Entah kapan
Kembali

Mohon Maaf lahir bathin
Anggap
Aku mengucap ini di hari pertama
Saat takbir membuncah

Mungkin
Entah
aku berdamai dalam waktu

maafkan
aku pamit
pulang
entah
tak datang

betapa
pernah sejenak bahagia
dengan kalian
selamat tinggal




Medan, Malam-malam perenungan/03.01 Wib/…………….
………………………………………………………………
………………………………………………………………
????????,,,,,?

9.22.2008

Aneh.. Tiba-tiba Aku Memikirkan Negeri Ini (setelah dua jam yang lalu)

Gulungan yang merangkai sederatan buih
menjemput rerumputan kedinginan
tak seucap kata
hanya desiran-desiran berderak patah
bergejolak
lalu diam
lalu bergejolak lagi
secembung air dibibir perbukitan
laksana cermin langit dibumi
begitu padu
angin mengantar ia berkelana ke pesisir landai
anjing berpesta pora
menanjakkan kaki demi perut
ikan kecil itu juga tak mau kalah
berlompatan seperti kunang-kunang perak
menghindar berliuk sebelum diterkam
disini
bersama para sahabat
imaji liar membuncah
keindahan yang dinikmati dalam takjub yang begitu mendalam
diantara masa yang berputar
antara detik ke detik
dicekungan tanah
berisi air
mengedip pulau samosir
pada bentang danau toba
tiba-tiba aku merinding
membayangkan kekayaan negeri ini
sungguh berbanding terbalik
dengan sebuah kata kemakmuran.



(1 bulan yang lalu,di pinggir Danau Toba, ini tertulis, 02.07 Wib)

9.15.2008

Di batas terakhir aku harus memulai sunyi

Muntah darahpun aku tak akan bisa kembali
Cukup aku memujimu sampai mengapung di air mata
Berkali-kali menggilaipun tetap aku berdiri ditempat yang sama
Nyata Aku tidak akan pernah bisa
mencoba gelisahmu lagi

Biar kita garis jalan yang lain
Yang pada malam-malam sepi slalu kutabuh dengan iringan carut marutnya asa
Menghantamkan setiap arah yang menyongsongmu di pagi buta
Sadar tak kan pernah aku terjaga mendapati aroma tubuhmu

Di batas yang kita eja dalam gerak langkah yang diam-diam
Mengikuti angin
Menyisir lembar-lembar yang dulu slalu kutulisi dengan gerakmu,senyummu,tingkahmu
Bahkan ciuman yang smpai detik ini setengah mati aku terus tak mengingatnya lagi
Namun malam tetap tak akan bisa memungkiri.
Aku yang terjebak di kungkungan tanpa pilihan
Yang ada hanya jalan pergi
Tanpa bisa kembali
Sejenakpun.. itu tak kan pernah

Aku menuruti langkah
Yang seharusnya dipapah oleh arti dan mengerti mu

Aku menuruti kepiluan
Dalam simpang yang sangat berbeda arah

Aku menuruti hatiku
yang nyata tanpamu

pesan terakhir dalam lelahku
disecarik langit
perbedaan ini telah nyata begitu menyakiti


kisah seorang teman, "perbedaan"

9.12.2008

Sebelum tujuh menit sumpah serapah

Sore ini cinta menyumpahi ku

sumpah, tanpa kata..

seperti mencabik kearah terdalam yang ku punya

selalu, tanpa suara..

bahkan sampai hentakan trakhir

hingga tak mampu bernafas

hingga tak kuasa hanya sekedar menghela

hingga aku kaku

padahal menggapainya adalah arahku

seperti sinar di ujung lorong hitam

semakin ku tuju aku semakin ditampar

terlampau silau..

terlalu benar, berkasnya!

sampai di titik ini

aku terpaku,

tidak untuk berhenti

hanya mengambil ancang2 kembali..

mencuri sisa kekuatan

tuk menerobos pergi..


9.11.2008

ku setubuhi bayang-bayang hanya untuk menjadi aku

pencarian ku pada batas ini
mengisahkan hamparan-hamparan ditikam terik
menghunus-hunus dari balik punggungku
menarik-narik khuldi yang ditanam di leherku

pencarian ku pada batas ini
menjemah seluruh isi perut
memutus hubungan ke kelamin-kelamin
menampar-nampar janin di urat-urat malu

sampai ku pada batas ini
buah dada ku tak kunjung mekar
meliuk-liuk di singasana tanpa raja
menoreh lenguh-lenguh lembut dari mulut kasar

ku cumbui ambang batas
kugantung sepatu hak tinggi
kutinggalkan meja hias
satu..dua..tiga..
aku kembali pulang
seperti terlahirkan

ku rangkul malam
menambatkan sisa-sisa yang kusisihkan
pada sebatang pohon jambu
ku tegaskan
aku sabaruddin
bukan sabrina

Melodi Untuk Kekasih

untuk kekasih
aku hanya sisa kebahagian
dari sebagian bahagia yang telah pergi
aku adalah rentang waktu yang lirih
saat roda tak mampu beranjak keatas sepenuhnya
aku adalah luka yang terluka
kekasih ikuti melodi sendu ini
mari menari dalam dansa yang erat
dekap aku sampai alunan lirih ini berhenti
kekasih senyumlah sayang
aku punya sekeping cinta untuk sarapan kita
kekasih jangan takut sebentar lagi hujan reda
kan terbitlah mentari yang kita nanti
dari selasar jendela
kekasih memilih dan dipilih adalah pilihan
biarkan badai menghantam kita
tapi jangan lepas genggaman mu
karena perahu yang kukayuh dalam letih
adalah perahu terakhirku
salam dari kayakinanku untuk memilihmu dulu...
aku terperanjat
melihat ketegaranmu
murungmu yang begitu perih
adalah warna yang akan ku jadikan pelukis kanvasku
mari sayang tanam bunga mawar itu dalam taman hati kita
sampai mekar
sampai musim berganti
sampai perhelatan dimulai
sampai takkan ada lagi malam sepi
karena disisimu ada hati yang setia menjaga tidurmu
kan ada pengkabaran
jika masanya tiba
aku dan kau akan tersenyum malu-malu
melihat buah hati yang mirip alisnya sepertimu
dagunya mencuri daguku
untuk kekasihku jauhkan aku bermimpi
setidaknya aku telah berani berangan
sekalipun setapak-setapak selangkah-selangkah..
kekasihku jangan sedih ya sayang
kan ku carikan untukmu sebagian bahagiaku yang telah hilang
untuk mu kekasih kerapuhanku ku kisahkan
anganku kuceritakan
sedihku ku dendangkan
lirik-lirik pilu ku tuliskan
karena aku tahu melodi indah akan tercipta denganmu

9.06.2008

Izinkan Aku Mengeja Namamu Ayah

Kutulis ini dalam malam-malam yang entah berantah.. mengalir begitu saja.. namun rasa tetap mengemudi diantara belahan arus penuh riam curam,. Aku sadar permainan waktu ini penuh dengan kemisterian, hampir saja jika sepersekian detik aku terlambat,mungkin aku sudah jadi abu,tinggal kepulan asap.. seperti pembakaran yang baru disiram.
Kumulai ini dalam keletihan yang menggantung begitu berat.. membebani setiap langkah yang kususun..menuju apa yang selama ini kuyakini.. jika aku mencumbui misterinya mungkin aku sudah sampai, namun semuanya begitu nanar..masih terlalu kabur untuk ku eja..
Cinta membalut luka lama..hadir tanpa tanda..mendekap ku dalam hampa yang tak mampu kutafsirkan.. jelas.. ini bukan dramatisasi rasa.. tapi pengakuan hati yang selama ini kutahan dalam gejolak-gejolak yang semakin nakal, pertahanan ku porak poranda.. ingin sekali rasinya identitasi itu hadir kembali, seperti apa yang kulihat nyata didepan mataku.. mulai aku menindas diri..membiarkan kecengengan ku melakonkan peran yang tidak seharusnya dipentaskan.. kubiarkan ia menjalar kesuluruh organ tubuh ku.. sampai batas-batas yang jelas menjadi garis akhir dari sebuah perenungan.. ia mulai menembus dan merusak perasaanku.. padahal aku dulu pernah berjanji.. tidak akan mengembalikan apa yang harusnya aku lupakan dan tinggalkan.. yah.. lagi-lagi masa lalu menyentak dan meracuni setiap pori yang ada di tubuh.. sampai nafasku tersedak satu-satu.. dadaku bergemuruh.. menghitamkan pandanganku kearah rasio yang selama ini masih bisa kujadikan penunjuk arah.. memang.. mendadaka semuanya ku kembalikan pada tempat yang tidak tepat..bukan saatnya.. tapi jujur aku tidak bisa menahannya sekalipun sedetik untuk aku bisa berbenah dan menata diri..menyiapkan akal dan pikiran dalam menandai itu bukan jalan yang harus ku genggam..
Aku gamang.. imaji ku tumbuh subur dalam bentuk lain.. mengukur setiap ketahanan ku.. semakin gencar melawan aku semakin lunglai..
Hening sejenak.. aku luka.. membuncahkan sedih…kerapuhanku mengakui bahwa ternyata aku belum siap…
Disimpang jalan sebelum pulang.. adzan magrib berkumandang disudut gang kecil sebelah tempat tinggal ku… mengalun dalam nada-nada kebesaran pencipta.. berlomba-lomba dengan hiruk pikuk simpang lampu merah.. ada penjaja makanan.. teriakan pedagang rokok.. gesekan biola dan petikan gitar musisi jalanan… semuanya padu dalam harmonisasi alam yang beringsut malam.. langkah kaki yang kupercapat karena waktu berbuka yang sudah tiba tidak bisa kuperintah.. aku terhenyak di senja yang menuai duka.. nanar melihat pertunjukkan didepan mata.. SEORANG AYAH MENYUAPI ANAKNYA..
Yah simponi ini yang begitu menguras perasaan.. kesedihan..kerinduan… rekaman adegan yang menghantarku pulang.. kembali dalam suasana rumah.. 6 tahun yang lalu.. ketika itu ayah masih ada… masih terlalu pasti senyum dan tawanya.. tak terkikis sedikitpun.. tersimpan rapi di memori dalam dan luar tubuh ku.. mengelus kepalaku ketika aku sakit karena seharian mandi hujan.. mendekapku erat ketika aku kedinginan.. menghantarku ke tempat yang selalu kuinginkan… tidak ada penolakan.. begitu ketulusannya menjadikan sebentuk rasa aman..
Selang waktu yang panjang.. dalam rentang jalan yang curam… aku terseok-seok melangkah sendiri..menuruni bukit-bukit tinggi yang telah menjadi takdir… pendakian nasib yang begitu menempah kesiapan untuk melakoni setiap adegan kehidupan.. kesimpulan-kesimpulan yang kumaknai satu persatu menghantarku pada masa kini yang masih runyam… sampai kapanpun logika ku mengingatkan.. AYAH TAK AKAN PERNAH DATANG…
Tik..tik..tikk..tik.. berpadu detik waktu dan rintik hujan.. malam ini aku begitu tersudut.. bayangan dan kerinduan sosok yang hilang kembali datang, seperti menghantui..
Disecarik kertas surat ayah yang terakhir kepadaku… tertulis petuah cinta dan logika hidup.. sedih..luka.. memuat kata kunci ketegara…

Petikan surat Ayah:
Natal 2 februari 2002
Kepada ananda
Bambang Saswanda
Di
SMUN 3 PLUS SIPIROK

Nak.. maknailah hidup dengan cara yang kauyakini… pengalaman selalu memberi pelajaran, disetiap kegagalan terdapat peta kesuksesan.. dari setiap kejadian tersimpan hikmak yang bisa kau jadikan ajaran.. dewasa dalam berfikir dan jangan biasakan mengeluh.. keluarlah dari setiap masalah-masalah yang ada.. tapi jangan lari.. hadapi dengan upaya yang bisa dilakukan dengan sungguh-sungguh.. niscaya pasti ada jalan keluar.. selektiflah nak dalam memilih jalan hidup.. yakini sepenuh hati.. jangan lupa tuhan selalu mendengar jika kita taat menyampaikan perasaan kita… maafkan ayah belum bisa mengirim uang sekolah.. sawah kita belum panen nak.. rajin sekolah dan beribadah..

Salam ayah
Mirwansyah

Kembali yah.. masa lalu itu menenggelamkan rasa kekinianku.. mengulur waktu pada satu masa yang indah dulunya.. inilah zona pembatas antara iya dan tidak.. rela atau tidak rela.. namun terlanjur sumbu ini sudah aku sulut.. tinggal menunggu waktu… kapan lagi ini akan datang menggulungku.. tidak akan pernah bisa aku padamkan.. ayah.. sekarang ramadhan ke 6 tanpamu…. Biasa nya ayah duduk di kursi disamping emak.. meja makan kita masih yang lama… menunya agak sedikit berubah… lebih sederhana mungkin… bahasa yang aku gunakan untuk kata tidak cukup.. ayah jangan marah… aku belum bisa berbuat banyak.. emak dirumah pasti rindu sekali dengan ayah.. biarlah emak diam2 memimpikan ayah.. mak begitu setia yah… menjaga rumah kecil kita..
Nisa sudah nikah.. insyaallah suaminya bisa menjadi pemimimpin keluarga.. cucu pertama juga sudah lahir.. namanya abil.. menjadi kebahagian baru setelah ayah pergi..
Widya sudah SMA kelas tiga.. dia pintar yah.. hitungan yang ayah ajarkan dulu masih sering diulangnya.. sekarang dia tumbuh menjadi gadis masnis… setiap aku melihat wajah widya aku pasti ingat ayah.. wajahnya mirip sekali dengan mu yah..
Wanda tidak senakal dulu lagi.. seperti waktu ayah baru meninggalkan semuanya.. dulu wanda begitu nakal yah.. mungkin bentuk kekesalan jiwa anak-anaknya yang merindukan ayah…
yudhit sudah sekarang SMP… masa lalu.. yudith yang tidak begitu mengenal rupa dan wajah ayah.. aku yakin dia sangat rindu memangil sapaan ayah.. terkadang aku hanya bisa diam.. ketika dia asyik bermain dengan teman seusianya… saat pulang sekolah.. dia biasa pulang sendiri.. sedangkan teman yang lain dijemput ayah-ayah mereka.. semoga dek.. kamu bisa menjadi anak yang berbakti… sampai hari ini aku begitu bangga denganmu.. kemandirian ayah ada padamu…

catatatan kecil ini kupersembahkan buat ayah.. insyaallah lebaran nanti aku pulang kerumah.. kami akan ziarah kemakam ayah.. semoga rindu ini menjadi kekuatan.. yang terakhir…
izinkan aku memanggil dengan sapaan ayah
sebab aku begitu rindu
AYAH
AYAHH
AYAHHH
AYHHHHH
AYAHHHHH
AYHHHHHHH
AYAHHHHHHH
AYAHHHHHHHH
AYAHHHHHHHHH
AYAAHHHHHHHHHH
AYAAHHHHHHHHHHHH
AYAAHHHHHHHHHHHHHHH
AYAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH
AYAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH………………………..
……………………………………….............................................................................
…………………………………………..................................................................................
………………………………………………......................................................................................
AKU SANGAT RINDU
IZINKAN AKU MENGEJA NAMAMU

9.05.2008

Mak... Kutuk Aku Jadi Orang Kaya


Mak... kutuk saja aku
Sebelum uang sekolah melumat anganku
Sebelum guru menghukumku
Karena tak mampu beli buku
Mak cepat kutuk aku
Masa depan terlalu buram untukku
Seperti memacu dalam mimpi
Saat terbangun kuda hilang aku tak sampai
Aku anak nelayan Hidup dari lautan
Mengais nyata ditanah mimpi
Tak mampu itu tak mampu ini,
Aku anak nelayan Sedikit harapan
Aku anak nelayan Banyak ketakutan
Mak kutuk saja aku
Biar cepat biar mudah
Bebas biaya uang sekolah
Doa Emak diatas perahu : “Ya Tuhan, anakku yang tidak durhaka,anakku yang miskin ingin sekolah. Dengan ini kukutuk menjadi orang kaya, biar tak susah beli buku, tak susah ini itu”. Amin jangan lupa Tuhan ampuni dosaku yang tega mengutuk anakku”.

9.02.2008

Salam dari Kubur

Api kurendam ditanah basah
lalu ada nisan patah
aku masuk tersudut diliang kubur
bersemedi hening takjub
ada cemeti membara
sang penggenggam yang angkuh
bersedih melihat kekakuanku
tak ada yang mampu ku tasbihkan
aku gugup tuhan
hanya itu
aku mengingat tuhan
hanya untuk itu
Sang Pengadil menggumam
anak manusia yang durhaka
terlalu melelahkan untuk dosa yang berkeping2 dan membatu
Melukiskan suasana untuk kuceritakan pada sahabat lama
anggap saja mencekam seperti palestina
bukan...
tapi sangat lebih dari itu
kesakitan yang paling sakit
dalam kebingungan yang paling membingungkan
ajal......
yang selama ini hanya seperti iklan
datang dan pergi
tak pernah menggetarkan hidup yang rapuh akan pahala
ternyata telah singgah di halamanku
gundukan tanah ini
kain putih yang menyesakkan
keranda yang menggigit
kami berkenalan
sementara diluar sana banyak isak yang mencemoohku
pengadilan ku tiba
aku tersudut
aku terapung
aku membara
dosa menemaniku
amal tersingkir dalam kelompok yang termaginalkan
peluh membisikku
berteriakpun kawan takkan iba Tuhan melihatmu
dunia yang terisi dengan kesia-kesiaan
tak pernah seimbang hidupmu sobat
ungkap jiwa ku dengan kasar
kulihat mataku
menghina sinis
kudengar telingaku
ada penyesalan
kujamah tanganku
dia pergi
apalagi hatiku
telah memutus hubungan dengan segalanya tentang aku
sedihku semakin sedih
takutku semakin takut
sadarku datang
bermimpi saja aku sudah mati

8.28.2008

kabar untuk almarhum ayah

ayah
karena kerapuhan kah

hingga aku hanya bisa menangis pada puisi
karena terlalu pedihkah
hingga aku larut dalam dalam raksa hidup yang mengental menghitam
bukan genap atau ganjil
bukan..
bukan hitungan
dua dikurang satu sama dengan satu
bukan
ibu dikurang ayah sama dengan yatim
ayah pergi lalu ibu tinggal
ayah menuju keterpisahan
membuatkan batas yang tak mampu kutuju
kutuju untuk menemuimu sekedar mengaduhkan ibu
ibu yang semakin sendu
ibu yang selalu meyakinkanku
ibu adalah ketangguhan dalam kesendirian
menggiring hidupku
pada permulaan yang akan selalu mendekatkanku pada akhiran
akhiran kebahagian
atau aku celaka dan durhaka karena menghadiahi ibu
dengan sumber air mata tangis
lalu aku pergi kepada ayah
lalu aku pulang
lalu akau mengaduh lagi
ayah..
mengenang seperti apa lagi yang bisa menyusutkan rinduku
atau kulupakan saja
biar aku tak mengingatmu lagi
karena terlalu tinggi kuraih
kehadiranmu dalam anganku
yah...
ibu menangis lagi
ibu terisak lagi...
tapi bukan itu yang kusesali
karena kerapuhan sebabnya
karena pergulatan yang kering ini
karena kepedihan
karena pecahan kaca-kaca itu
kaca yang harus ditapaki
sementara telapak kaki belum begitu sembuh
ajari aku ayah
bagaimana membuat senyum ibu kembali
ini luka....
yang bercerita lalu entah
entah yang tak pernah dimengerti
oleh ku
dan oleh ku juga
berlalu bersama retak waktu
yang mengeping dan mengecil menjadi kenestapaan
lalu menitik pada keterpekuran
dan takkan pernah hilang
sekalipun telah melewati seribu malam-malam perenungan
pada bunga kamboja
yang masih kaku untuk kutaburkan
pada masa yang turut mengentakkan dalam kesadaran yang mengepung menjadi diam
selamat tinggal ayah
jika doaku sampai
cukup kirimkan aku senyuman
selamat tinggal ayah
esok jika aku bisa pulang
akan kujenguk makam mu
aku janji..
aku tidak akan menangis lagi

8.24.2008

innalillahiwainnailaihi rojiun


di ujung tiang biduk tua
tersembul ketidak pastian
mengayuh dan mengayuh
sampai patah kayuh

lamat-lamat riak berombak
mengamuk dengan sepasukan angin
terlunta-lunta nasib di tengah lautan
hidup ditanggung-tanggungkan

persinggahan turut benam
karang menghitam
mata kail tersangkut di mata
jala telah pula lupa terbawa

sejauh jauh ia berlari
sedekat dekat ia menanti
terbayang wajah istri terlentang di dipan
ditunggui anak yang membaca yasin

innalillahiwainnailaihi rojiun
bapak mati dibenam
ibu mati terdiam
tinggal anak bersama angan

doa didendangkan
yatim piatu menggigil
jenazah ditanam
air mata membasah nisan

Tamat

sungguh
sungguh-sungguh aku
aku sungguh-sungguh lupa

8.23.2008

IDE GILA TENTANG BAHASA

Diskusi Bahasa

beberapa minggu yang lalu saya pernah berdebat serius dengan teman sekampus. kebetulan dulu kami sama-sama pengurus disebuah organisasi ekstra kampus di medan.. kami berdebat serius lebih kurang 3 jam.. saya dengan ide yang aneh menurut sobat saya,, dan dia juga dengan ide yang aneh menurut cara pandang saya.. dan itulah awal mulanya perdebatan dimulai..
saya tidak pernah sepakat bahwa bahasa inggris dijadikan sebagai bahasa internasional yang benar-benar harus kita pegang teguh... sebagai warga negara yang tinggal disebuah negara yang besar.. kita juga harus membuat peraturan bahwa bahasa di negara kita juga harus digunakan orang asing jika berkunjung ke negara kita, mengapa cuma kita yang harus mati-matian belajar bahasa inggris. mengapa mereka tidak belajar bahasa indonesia seperti kita belajar bahasa inggris.. di indonesia saat ini hampir semua lembaga pendidikan memasukkan pelajaran bahasa inggris ke dalam daftar kurikulum pendidikannya.. mengapa harus bahasa inggris, seharusnya kita orang indonesia juga harus memahami bahasa2 daerah yang ada di indonesia... budaya indonesia adalah kekayaan yang ingin dan tidak dimiliki negara lain, jika bukan kita yang melestarikannya lalu siapa lagi? jika tidak kita yang mengenalkannnya kepada orang lain lalu siapa lagi?
haruskah dengan bahasa juga kita dijajah... secara bahasa indonesia sangat kaya, mungkin kita hanya mengetahui secuil tentang bahasa2 daerah yang ada di indonesia.. tapi untuk bahasa inggris mungkin kita sudah lancar seperti bahasa indonesia, tapi bukan berarti saya menyempitkan pikiran saya tentang kefanatikan yang berlebihan tentang penggunaan bahasa,... tapi kapan lagi budaya indonesia ini bisa berkembang jika kita tidak mulai dari sekarang.. lembaga-lembaga pendidikan selama ini lebih menuntut kepada pemahaman tentang bahasa inggris.. akan tetapi bahasa daerah terlupakan.. memang ada beberapa sekolah di daerah-daerah yang mengajarkan mata pelajaran bahasa daerah akan tetapi itu sangat sedikit dan seringkali tidak maksimal.. dilakukan dengan setengah hati..

Ada apa dengan bahasa indonesia dan bahasa daerah
kembali kediskusi dan perdebatan dengan sobat saya..
ide ini berangkat dari kegelisahan saya tentang semakin minimnya pemahaman akan budaya negara sendiri.khususnya bahasa daerah. bukan tidak mungkin, suatu saat bahasa-bahasa daerah yang ada akan sangat sulit kita jumpain.. semangat sumpah pemuda memang menganjurkan bahasa indonesia, dengan itu kita menonjolkan nasionalisme dan kesatuan sebagai bangsa.. akan tetapi ini jangan sampai salah kaprah.. pelestarian akan budaya bangsa juga merupakan bagian dari semangat kecintaan terhadap indonesia.. jangan sampai kita terus-terus dicekcoki dengan kewajiban untuk belajar bahasa asing sehingga bahasa sendiri kita tidak tahu apalagi bahasa daerah... mungkin bukan hal yang mustahil ketika orang asing datang keindonesia kita akan menyambut dengan bahasa inggris, dan mereka tetap dengan bahasa inggris.. akan tetapi mungkin suatu hal yang sangat sulit dijumpai ketika orang indonesia berunjung ke negara lain maka kita akan tetap bisa berkomunikasi dengan bahasa indonesia dan mereka menyambut juga dengan bahasa kita...

seperti kata sobat saya, bahasa inggris adalah bahasa internasional, maka kita harus dan wajib bisa menggunakannya... saya sepakat dengan itu, lalu bagaimana dengan nasib bahasa negera kita sendiri dan bahasa daerahnya.. apa tidak bisa negara kita ini mengembangkan bahasanya sendiri,itu masih bahasa indonesia, bagaimana dengan nasib bahasa daerah...

kemandirian kita sebagai sebuah bangsa yang besar juga tentunya bisa membuat aturan main tentang penggunaan bahasa indonesia dan bahasa daerah... sehingga dengan aturan tersebut budaya dan bahasa bangsa ini yang begitu ragam bisa tetap lestari

Ide Gila
saya punya ide yang menurut sobat saya itu ide gila
sebagai salah satu cara mengenalkan bahasa indonesia dan bahasa daerah kepada negara lain adalah dengan mengefektifkan penggunaan bahasa indonesia dan bahasa daerah di instansi-instansi dan lembaga-lembaga yang ada dinegara ini.. kita mulai dari bandara,, misalnya pilot negara luar yang singgah di medan wajib mengucap salam dengan Horas,
dan antara pilot dan petugas bandara wajib berkomunikasi dengan bahasa batak.. begitu juga dengan di padang,jawa,kalimantan.pelembang,sulawesi sampai keirian jaya, mereka wajib menggunakan sapaan dan bahasa daerah tempat yang disinggahi, mungkin dengan demikian bangsa ini akan dihormati sebagai bangsa yang kuat dan merdeka

saya membuka ruang diskusi untuk ini
silahkan kirim komentar anda
apakah anda termasuk orang yang mengatakan ide saya ide gila atau sebaliknya, anda turut mendukung saya...



agusutus masih merah

sementara
agustus merah
bendera
darah
amarah
merdeka
dan ada juga
tipu daya
darah yang merdeka
amarah yang merdeka
tipu daya yang merdeka
merdeka seperti apa?
merdeka yang tetap berdarah
merdeka yang tetap memelihara tipu daya
merdeka yang tetap memendam amarah

8.21.2008

Nak Tuhan Tidak lupa Sayang


syair telah ditembangkan
sebatas ritme-ritme yang mengisyaratkan kedukaan
membawa petisi luka
sehingga apa yang kuterjemahkan hari ini
menjadi salah kaprah
bahagaia itu ternyata belum menjadi milik kita

teruslah nak
kau putar langkah mu
berpijaklah pada titian yang mulai genting itu
jangan kau amarahkan takutmu
sebentuk asa mungkin telah Tuhan sediakan untuk kita

menarilah dalam dendang yang kita anggap indah
esok pun masih misteri
jangan gemetar
sebab pecundang yang hanya selalu mengeluh

pagi ini begitu sulit kan nak?
jadilah kesejatian yang hakiki
tegar dalam hidup yang telah kita pilih
yakinlah Tuhan tidak pernah lupa
sekalipun kita tidak jarang mengingkarinya

salam pada malam
kita tuju bersama dengan munajat yang kita suarakan
pinta lah dengan lembut
niscaya kebekuan kita ini pasti mencair dengan cahayaNya..

aku yang telah mati


semalam sayang
aku telah mati
maafkan aku yang tak sempat memberitahumu

jika ingin menjenguk
datanglah sekarang
ditempat biasa aku menghabiskan waktu
disitu ada sepucuk surat untukmu

untuk kekasihku...
hapus dulu sayang air matanya
nanti kertasnya basah
jangan sedih lagi ya
senyumlah

sayang.. aku sudah jauh
tak mungkin lagi kembali untukmu
aku membawa semua yang ada padamu
dalam sebentuk kerinduan dan kesedihan yang teramat mendalam

sesunggunya rela adalah hal yang sulit untukku
merelakanmu
maaf aku sayang
aku begitu menutup hati
dengan tidak sengaja meninggalkanmu

sampai malam ini sayang
aku begitu menyesal
mungkin kau belum tau
besok ibuku pasti mengabarimu

Jika Aku tiada


jika aku tiada
masihkah

jika aku tiada
adakah

jika aku tiada
datangkah

jika aku tiada
bertahankah

jika aku tiada
relakah

jika aku tiada
setidaknya
aku berharap kau menitikkan air mata
terserah
berduka atau bahagia

antara aku dan kau yang dihimpit rasa


sepenggal malam
menari di kernyit angin
meliuk dan dan memasuki
sebuah pahatan yang tak kunjung usai

lengah seketika
hatiku kearah yang tak kau duga
pamit jiwa raga yang membuncah diluka
mengeluarkan gelembung-gelumbang berbau tanpa rasa

ingat jika kemarin kau tawarkan sebentuk sayang
kau daratkan nafsumu dalam sebentuk ciuman
tepat mengenai kelaminku yang kaupinjam tadi malam
lenguh sudah kita terjungkal tanpa apa-apa

lagi dan lagi kita berserakan diantara pecahan kaca-kaca
tetap saling mendekap tanpa lelah
sudah kita duga
akan tetap terarah kejalan yang sudah kita buka

kemana kita membawa cinta
rasa sudah ada
tidak// cukuplah kita saja yang ada
aku betah dengan apa yang kau punya

8.20.2008

Ibadah Sang Pelacur


Peserta Pertama (pukul 09.30 waktu Lokalisasi)

landasan telah lama dibuka, menunggu pesawat tempur
mengejar mimpi dalam malam yang menjadi nyata
berteriak-teriak, menukik, meliuk
pasar dibuka, tawar menawar, lalu hilang begitu saja

Peserta Kedua (Pukul 10.50 Waktu Lokalisasi)

Kembali tirai dibuka
lakon dengan skenario sama akan kembali di adu
sutradara gelisah
aktor utama belum tiba
tidak lama
film seperti cinta bergenre seperti cinta diputar lagi

Peserta Ketiga (Pukul 01.30 Waktu Lokalisasi)

Ada lagi sebentuk rupa
seperti patung manusia memahat manusia
berkedip-kedip
sedikit lelah
tapi malam hanya sekejap

Peserta Keempat Pukul 03.00 Waktu Lokalisasi)

Rezeki terakhir
nyanyian kembali didendangkan
entah luka entah apa
tapi ia terus mengalun
sampai usai benar-benar usai

bandara ditutup
pasar dibersihkan
bioskop dihentikan
patung sudah selesai

"sebelelum terlelap
ya tuhan aku lelah sekali
sebelum aku mati
sempatkan aku membersihkan diri

setengah terlelap
ya tuhan aku beribadah kepadaMu malam ini
hanya sepenggal doa
hanya antara aku denganMu"

Kumis dan Ketiak Pria Hidung Belang di tengah ranjang


duh.. cinta kemarilah keketiakku yang masih bau bunga
disana kan kau dapati utuh diriku
menari-nari lalu bersemayam dalam gelap menggulita
menebar senyum khas seorang pria jalang yang telah merambahmu
Mari manari lagi sayang
hentakkan semampu mu
sebab daya upayamu telah merenggut segalanya
istri
anak
semuanya
uhuk..uhuk (tersedak hidung belang sempoyongan dijitak setan)
duh cinta
teruskan perburuan mu di rimba-rimba yang selama ini telah menjadi bangkai
sebab disana lagi-lagi kau dapati cinta
cinta yang mengalir entah kemana
sampai habis cinta.sampai habis cinta..sampai habis cinta
uhuk..uhuk (terbatuk hidung belang dipelototin iblis)
duh sayang
kemarilah
kau tatap kumisku
laksana bentang samudra yang maha luas
disana kau dapati isak tangis istri dan anakku
terjunlah
betapa mahalaknatnya aku yang mengizinkan perahumu berlayar di lautan ku
lautan istriku
lautan anakku
lautan cintaku
uhuk-uhuk (mulutku berdarah sayang,ada bau nanah,tubuh gematar sayang)
uhuk-uhuk (sampaikan maafku pada Tuhan..)
"Ditemukan Sesosok Mayat Pria di dalam kamar hotel, diperkirakan pria tersebut overdosis berlayar,kayuhnya patah,kumisnya rontok,ketiaknya menebar aroma minuman keras, layarnya juga sudah porak poranda"

8.18.2008

Menangkap kemerdekaan di Ujung malam


kutangkap jiwa yang basah
yang hanyut bersama dalam cerita
penuh riak.. saling berhamburan
melompat dan bergejolak
kutangkap jiwa yang hangat
yang hanyut bersama dalam cerita
penuh gerak dan irama tanpa jarak
cepat melaju keujung-ujung
kutangkap jiwa yang merdeka
dalam wajah-wajah bercahaya
sampai menembus langit paling jauh
masih terdengar
kemerdekaannya berteriak-teriak
menghempas dibibir pantai
melambung kebukit-bukit
menghujam didasar bumi
tanah pecah
lautan bergemuruh
angin berputar-putar
langit runtuh
seisi bumi bergemuruh
tapi tetap ia
berteriak merdeka
sampai keujung-ujung

Tafsir Gila Tentang merdeka


Merdeka....
teriak menteri XX tadi pagi
eh.. esoknya
menteri XX dipenjara ketahuan korupsi
Merdeka..
teriak gubernur XX di Provinsi XX
lagi-lagi
Gubernur XX Korupsi lagi
Merdeka.....
teriak jaksa
teriak hakim
teriak bupati/walikota
teriak wakil rakyat
teriak camat
teriak lurah
merdeka lagi.. korupsi lagi.. ketahuan lagi.. dipenjara lagi.. merdeka lagi... korupsi lagi..

Sajak Merdeka Tuan Guru


Di liang lahat
jenazah tuan guru
menitikkan air mata
tanda ia berduka
berduka pada tanah yang ditinggalkan merdeka
berduka pada pemimpin ditanah merdeka
berduka pada rakyat yang masih seperti merdeka
berduka pada duka-duka yang terus ada
malam larut
menyampaikan pesan pada kemuraman tak kunjung usai
gerimis terisak-terisak menambah kepiluan
tuan guru ingat
sepanjang batas ditikungan masa lalu
siang membuncah berteriak-teriak
seperti mahabahagia yang singgah disetumpuk tanah yang usai dijajah
tuan guru membaca sajak merdeka
atas nama bangsa indonesia
menengadah kedua telapak tangan sebatas kepala
tuan guru diam
berdoa kyusuk sampai subuh menjelang

merdeka yang dijajah


Mari merdeka budak penjajah
sudilah kiranya
diam dan diam yang takut
berdiri menghadang pada barisan ombak yang menantang
jalan terus kalau tidak pengecut
sekalipun dirahimmu ada benih-benih
yang tertinggal dari tingkah nafsu
bangkit... gugurkan atau hentakkan
perutmu ditanah ini
sudahlah
mari hentikan terjun air mata
jangan sampai menganak sungai
kita belah malam menjadi malam
iris dengan belati yang selama ini menancap dijantungmu
nyatakan matahari yang sedang bersinar
adalah hari siang
jangan terkulai lagi bodoh
lelah kita dalam kubangan derita
atau mungkin?
sudah terlalu betah negeri ini disinggahi
diperkosa, diperbudak, dianiaya
lalu dibebaskan seperti merdeka

8.14.2008

Seperti menyesal


terisak air mata yang menghitam
membawa dara kotor berlumur
kental dan pekat
diatas sajadahMU

tunduk dalam sejuta sesal yang tak berujung
aku ingin melangkah kepintuMU

semalam masih belum kering nafsu dari badan
menjaja cinta dalam rakusnya malam
membawa petaka diujung gerimis yang menghujam
entah sampai kapan..

kutemukan cinta diselangkanganmu


kutemukan wujud cinta diselangkanganmu
kuhisap wangi cinta diselangkanganmu
kubelai rambut cinta diselangkanganmu
kuseka darah cinta diselangkanganmu

kubelai rupa cinta diselangkanganmu
kurangkul buah cinta diselangkanganmu
kudapati sebentuk cinta diselangkanganmu
kutemukan cinta diselangkanganmu

terima kasih sayang
esok kita pacu lagi desah basah dalam senggama yang halal
sebab aku sedang ingin menimang

8.12.2008

Harga Sebuah Nilai


Gagal dan sukses kata orang beda tipis...
perbedaannya hanya pada NILAI..
nilai kejujuran
jujur untuk mengakui
nilai kapatutan
patut atau tidak untuk gagal dan sukses
nilai kesanggupan
kesanggupan untuk bangkit dan bertahan
atau bahkan nilai kesyukuran
orang menang akan merasakan kegagalan sebenarnya ketika dia tidak bisa memahami nilai-nilai sebuah kemenangan dan orang gagal akan merasakan kemenangan ketika dia bisa memahami nilai-nilai kegagalan tersebut..
suatu ketika seorang staff sebuah perusahaan bertaraf internasional telah membuat kesalahan, dan akibat kejadian tersebut perusahaan mengalami kerugian ratusan miliyar.. ketika staff tersebut dipanggil keruangan manager perusahaan untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya.. mungkin kita mengira staf tersebut akan dipecat atau bahkan di penjara.. tapi ternyata tidak.. sang manager memeluk dan merangkul staf tersebut.. "jangan takut,, kamu tidak akan saya pecat.. sebab saya telah mengeluarkan uang ratusan milyaran untuk memberikanmu sebuah pengalaman.dan itu tidak pernah saya dapatkan, hanya kamu. dan itu bermanfaat untuk persusahaan saya,jika nanti suatu saat perusahaan ini menghadapi masalah yang sama, setikdaknya aku telah menyekolahkanmu di universitas kehidupan yang sarat akan pengalaman"... itulah nilai sebuah kegagalan dan ternyata masih memiliki nilai

8.09.2008

Sedetik setelah bermimpi


tahun depan sudah wisuda
ipeka terancam cumlaude

sedetik setelah sarjana
dapat beasiswa
kuliah di amerika
dasar nasib sial
lulus berprestasi

sedetik setelah itu
dapat tawaran lagi
sampai es tiga
dasar nasib sial
berprestasi lagi

sedetik setelah itu
aku kaya

sedetik setelah itu
ku jemput cinta

sedetik setelah itu
(tok...tok...tok..)
"bambang... bangun.. bayar uang kos,listrik,air............
sedetik setelah itu
aduh Tuhan.... bermimpi saja sudah enak
sedetik setelah itu
"bambang segera kekampus... surat DO-mu sudah keluar"
aduh Tuhan .....beda jauh ya mimpi dengan kenyataan

Orang yang Kalah




Surat aktifis mahasiswa untuk emak disawah

mak aku bangga
semalam orasi
bersama masa aksi
di depan polisi

mak aku senang sekali
aku
bangun pagi
ada demonstrasi

mak aku baca puisi
didepan pejabat yang hobbi korupsi
muka nya merah padam
kumisnya naik turun
sepulang aksi
ada pesan hp murahan
"kalau baca puisi pelan-pelan
bapak tidak senang
penjara atau kuburan"
he..he..he
pecundang jago ancam
pandainya diam-diam

mak hari ini aku aksi lagi
besok juga aksi
lusa masih aksi
sampai mati
mati ketidakadilan
mati kesengseraan
mati kemiskinan
mati pendidikan mahal
mati kesewenang-wenangan

Surat emak disawah untuk aktifis mahasiswa
teruskan perjuangan nak
tapi jangan lempar dan bakar-bakar ya nak
emak takut
nanti masuk penjara
emak gak ada ongkos buat jenguk

"sok idealis, sok aktifis, sok militan lah lah, sok peduli rakyat lah"
hati-hati
nanti sibuk organisasi
diskusi sana diskusi sini,
kuliah mati berdiri"
ejek mulutku yang bau tak tau malu


Menyesal juga rupanya ya

habis sudah
putus jalan
akhirnya
sampai disini

emak
putus asa
makan hati
punya anak
aku

entahlah
sudah jalan
dasar gembel
tak pakai otak
sudah bagus
malah main-main

putus urat nadi
gantung leher
minum racun serangga
berdiri didepan regu tembak

Mudah-mudahan aku hanya cakap kotor

(memegang kepala,tunduk,putus asa)

anjing
binatang
keparat
gila
sumpah serapah untuk gedung tua
apa namanya?
kampus
tempat mahasiswa/mahaanjing/mahabinatang/mahakeparat
/mahagila..

(berdiri,beragumentasi,berapologi,berlogika,pakai data ilmiah)

seperti anjing saja
menjulurkan lidah berliur
menggonggong buas
mencari nafkah dan memeras tak jauh beda
pak tua yang tak punya hati
katanya doktor,profesor ini itu alumni luar negeri
ehhh pulang kampung menjajah bangsa sendiri

seperti binatang saja
mengendus mengintai buas
terkam depan belakang
samping kiri kanan menendang
izajah palsu belum pulang modal

keparat benar
guru murid sama saja
guru kencing terbang murid kena siram
he...he...he..
pertunjukkan aneh
katanya ilmu itu mahal nak
pendidikan itu butuh biaya nak
seperti pasar ikan saja
tawar menawar
masih mending
pedagang untung
pembeli tak rugi

gila
sudah gila
gila..gila...gilaaaaaaaaaaaaa
sudah gilakah?

entahlah.......
mudah-mudahan aku hanya cakap kotor

legenda hidup yang aneh

mengembara ke alam liar
membawa sekuntum akar yang bergerak liar
aku terbirit-birit
dilelang buas dan bisa
seperti pasar malam
ramai orang gila
pakai seragam
dor..dor
peluru nyasar
menembus luka yang sudah ada sejak lama
syukurlah
masih hidup tua bangka yang sekarat
ada penembak gelap
diperang yang tak pernah damai
eh keras kepala ternyata
masih bersenggama juga
ku genggam ari-ari
yang tadi pagi baru kucuci dalam arwah
melekatkan bijak yang bijaksana
adil dalam adil dan keadilan
aku mati
istriku melahirkan
istriku mati
anaku melahirkan
anaku mati
cucuku melahirkan
seperti putaran gasing
tetap itu-itu saja
menembus hari
yang semula kelam beringsut terang
terang menyusut kembali malam
cerita yang aneh dalam hidup yang harus masuk akal

8.06.2008

cantik-cantik kok makan kangkung


Melintas hari memahat makna
dalam luka dan tawa
orientasi yang cenderung sama
pada sisi tak berbeda
setahun meretas garis
terlukis tanpa henti
diantara celah
tikungan sempit
berdinding batu bersisi curam
kita begitu berani sobat
sampai seluruh waktu kita serahkan pada
satu tempat yang akan kita selalu ingat
kebersamaan yang rumit
kadang harus luka
kadang lelah
tapi tanpa sadar kita bahagia memilih warna
tanpa sadar kita gila sobat
dalam gila diskusi
dalam gila orasi
dalam gila aksi
sobat ingat kita pernah takut dan berdarah
tapi tetap betah berlama-lama
kita tidak surut
untuk lari dan membawa sesal
sampai hari ini
akhir jalan
kita menuntaskannya
ketika kembali sepi
dalam kekosongan tanpa arti
kapan kita pulang?
ketempat dulu
bergerak dibawah langit
menengadah tanpa keluh kesah
kapa kita kembali
seperti saat-saat perjalanan pulang
kita berkelakar
sampai putus urat tawa
msing ingat sobat
diatas roda dua mu yang rakus
sepulang aksi
logika mu yang tak stabil
hal temeh yang kau ramu menjadi umpama
lihat didepan kita
cantik-cantik kok makan kangkung
katamu tanpa rasa
aku hanya bingung
melihat gilamu yang tidak kenal tempat


(untuk sobat ku Zulfan..

Mantan Ketua Umum

HMI Komisariat Fakultas Sastra USU 07-08

terus berkarya wa... hajar terus)

8.02.2008

Detik Waktu


Sangat sederhana, tidak lebih tiga batang jarum, bergerak memutar kekanan, tidak pernah peduli.. hujan, badai, terik, siang malam, dilihat atau tidak, didengar pun hanya dalam sunyi. namun ia tetap berjalan tenang, sepertinya ia betul-betul memanfaatkan semua kesempatan hidupnya..
Detik........
dari yang terkecil, berputar cepat membelah ruang.. menjadikan sekat-sekat waktu.. 12 angka yang menjadi terminal utama, 5 terminal kecil tiap-tiap terminal utama.. detik detik yang mengagumkan.. rasa kesetian yang begitu utuh.tidak pernah mengeluh. jarum kecil yang yang kurus.. mungkin karena lebih sering bergerak dari dua saudara sesama jarum dalam satu poros.. betapapun... tanpa geraknya.. dua jarum lagi tidak akan pernah berputar... mereka bebas bergerak dalam aturan masing-masing

8.01.2008

nyamuk pun ikut menegur



dunia yang kujamah
berdehem seperti marah
alam yang kulempari dengan angkuh yang kumiliki
biasa saja tapi sepertinya menyimpan dendam kesumat
kapan kau matahari
berhenti berpijar
tidakkah kau bosan dengan gelimang kedurhakaan penghuninya yang begitu serakah
surut kau membenam ditengah lautan
hisap dengan perkasa mu
sebab orang miskin sudah meminta kiamat
menengadah ku kelangit
hitam pekat sekali
banyak luka yang bergantung disana
zalim sekali mereka
tapi sepertinya juga aku
pentaskanlah
panggung-panggung penyadaran
yang lebih meriah
agar aku yang manusia ini
melangkah dalam kebijaksanaan yang kental
sebab bumi yang kutelan
sudah pahit sekali
pernah aku beringsut kebelakang
mengapa ibu tak menggugurkan ku dulu
sebab lakon yang kuperankan
tidak lebih dari sekedar,daripada tidak,atau cuma sebatas itu
tutup segera tirai yang lama membuka
sudah terlalu berdebu
jangankan mati
hidup saja aku sudah takut
itu karena kau
belum hidup sepenuhnya
hanya sekedar
berdiri tanpa berjalan
sampai membenam
apa-apaan aku ini
pesimis kok diumbar
salahkan dirimu sendiri sobat
ejek nyamuk

Tetap disini atau kau kukawini


sayang
nyalakan untukku lampu merah diperempatan harap mu
sebab aku tau
disini ada jelas terukir jutaan bintang-bintang yang mengedip mesra

lagi sayang
tak perlu kau buat rambu dilarang berhenti
sebab aku pengemudi nakal
yang selalu betah berlama-lama denganmu

ku kebut perasaan dalam lintasan sunyi
sampai perhentian yang kau diami menawarkan ku harga mati
"tetap disini atau kau kukawini"

Cinta ini begitu laju kawan


ini cinta
yang mengalir menembus kulit ari
mengikat jutaan pori-pori
sampai tak setiupan nafas pun melaju tanpa pesan pesan berwarna jingga
akupun yang demikian kaku
telah merembes dalam derasnya aliran darah yang didetak nadi
sampai persimpangan-persimpangan yang mendilemakan harap
begitu laju sampai anginpun menitip pesan
"saat kau sampai sobat, katakan aku menyusul dibelakang, karna apa yang kau punya begitu kuat untuk menuntaskan ukiran rasa yang kau pahat di jantung kekasihmu"

7.31.2008

Janji yang tidak kau tahu


kekuatan itu selalu datang melaluimu
celah sekecil apapun, rongga sesempit apapun
kau masih sempat meneguhkan langkahku yang pernah gontai
demi apa yang pernah ku ucap
untukmu aku tidak akan pernah berhenti
saat memulai
ketika menjalani
lakon apapun
peran apa saja
akan kupentaskan
hingga semuanya tau
akan tidak pernah ada kesia-siaan
dalam jalan hidup yang kutapaki
begitu juga dengan memilihmu
tanpa terkecuali

Basa-basi /Malu-malu



Perkenalkan :
Aku warga negara Indonesia
Tidak sekolah
susah biaya

Bapak ku miskin
aku miskin
anakku miskin
cucuku miskin





Bambang Saswanda
Lupa.....

Hitam Putih dan Tanda Tanya


“Sudahlah nak, gak lulus gak apa-apa,kita orang kaya, besok bapak belikan izajah, paket lengkap super khusus, dari SD sampai Sarjana.”
Sumringah Bapak Gendut berperut buncit, pakai seragam ketat, kepala dinas di kantor Ehem.. jangan bilang-bilang kata mama, nanti bapakmu diborgol.

“Kasihan bangsa ini, makan hati disiksa terus, terseok-seok. merangkak, jatuh, merangkak, jatuh.” kata penyair berpuisi sendu, dipelataran malam, menghadap bulan, lahir dari kerongkongan, menembus usus, merambat kejantung. sampai penyair mati, tetap seperti ini?