10.21.2008

Di seberang Sunyi menerjemah rindu

berlari sejauh mungkin
di tengah perapian basah
dalam relung jiwa
betah berlama-lama
dengan cara apa aku mendefini rasanya

kau ikat erat
seluruh pori-poriku
galau antah berantah
berkecamuk apa saja
duh.. mati-matian aku di dekapnya

ku hitung jumlah mu
namun gelap
ku tanam kau di ubun-ubun
namun akarnya aku tak tau

tinggalkan aku
tolonglah
sampai esok pagi saja
saat ku terjaga kan ku kejar kau di ujung mana

4 komentar:

Erik mengatakan...

Indah sekali puisinya...

timur matahari mengatakan...

untuk Erik
trima kasih mas.
kunjungan nya terus menjadi spirit untuk saya

fitri mengatakan...

dan lagilagi rindu itu...
ah..harus dimanakah bertahta?

timur matahari mengatakan...

untuk Fitri :
he,,he,,
tahtahkan saja dimana yang pantas
dan biarkan ia mengalir apa adanya