10.21.2008

Matilah Cinta yang Berat Sebelah

Beringsut Melati di akar mati
membawa terbang bergumpal asa
dan di tiangmu pun ku tancap galau
mengalah ia pada nestapa membekas rela

melati sesak padam juga
asa bersatu hujan
digumul gertak petir
layar tercabik di kuak camar
teruslah berirama isak dewa di bawah tanah

kan kau sangka akulah sebab?
tidak mungkin aku menggantung kaki
ajaib, kau tega menindih luka
pergilah, bungkusanmu tlah ku panah di depan jendela

sudah kubawa ke awan
janji yang ku pancang siang malam
salah mu juga betah menghitung diri
tiada mengulur tangan
sudah aku sengsara
memikul cinta berat sebelah

12 komentar:

Duniafien mengatakan...

berasa bgt ga enk pny cnt brat sebelah..diksinya bikin kt lebih konsen lg bacanya..hehe

goresan pena mengatakan...

keikhlasan mungkin jawaban, teman...

Erik mengatakan...

Ya..memang gak enak cinta berat sebelah... jika tidak bisa dikhlaskan, mungkin lepaskanlah harapanmu...

sarahtidaksendiri mengatakan...

dalam suatu hubungan akan lbh baik bila tidak satupun merasa lbh dominan atau sebaliknya... :)

Onik mengatakan...

Kata-katamu dalam banget, kali ini ga terasa datar, good

fatamorgana mengatakan...

apakah ini berarti ada yang hati yang sedang mengalami 'cinta yang selalu mengalah'? Puisi yang bernas, bro!

timur matahari mengatakan...

untuk Duniafien :
he..he.. ntar sebelum dimulai kita timbang dulu.. baru deh cintanya di jalani
trims apresasinya

timur matahari mengatakan...

untuk goresan pena
dia sudah mencoba ikhlas mbak
tapi ada batas yang jeram
pantas saja teman saya mengakhirinya..

timur matahari mengatakan...

untuk Erik ;
tepat sekali mas.. usaha sudah sampai di ambang batas.. ternyata memang harus mundur

timur matahari mengatakan...

untuk sarahtidaksendiri :
harusnya memang seperti itu
tapi sungguh keseimbangan itu adalah sesuatu yang teramat berat.

timur matahari mengatakan...

untuk Onik:
trima kasih kawan
apresasi yang menjadi spirit
teruslah bertadang dan mengingatkan saya
pintu selalu terbuka

timur matahari mengatakan...

untuk Fatamorgana:
yah seperti itulah adanya
kawan lama yang menceritakannya