10.23.2008

Perempuan dan Ajal

antara dua belah paha
sembilu menyibak
teriak cinta membahana
tentang segumpal darah hidup di rahim

mungkinkah sempat air mata membasah
di kening yang masih merah
geraham mengguncang saling mengapit
nyawa sesak menuju surga

lengkingan terakhir
aroma kematian membelah semesta
kesakitan terbawa
ketuban berontak membuncah di akhir

hanya sunyi dan gelengan kepala
dua sudah terbawa
betapa di tengah, antara kematian dan hidup
terimalah kabar duka

wanita bercahaya di pembaringan
bersama ajal
tiba lah takdir
ibu dan anak bersua di surga

18 komentar:

Djoko Wahjuadi mengatakan...

hi mama,
untung ya aku nggak sempat hidup didunia...ternyata surga itu sempurna...indah, nyaman, tenteram dan hanya ada senyum, tidak ada benci, tidak ada sakit...pokoknya sempurna deh......

celotehbayu200687 mengatakan...

setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati…
mungkin sebenarnya yang kita nanti selama ini…
adalah sebuah sepi…
sempurna dalam mimpi…
dan rumah tak berakhiran di akhir gerimis dan matahari…

Jahid KLW mengatakan...

Tak selamanya mendung itu kelabu
tak selama pula daun itu menghijau
bahkan kadang belum sempat benar benar tampak kehijauanpun sering kali ada
seluruhnya akan kembali pada garisnya
begitukah ?

Erik mengatakan...

Melahirkam,... sebuah perjuangan antara hidup dan mati.

goresan pena mengatakan...

hhhhhh.....
"seorang ibu yang berbahagia, ialah yang bisa dikafankan dengan anaknya, bukan yang mengkafankan anaknya"

timur matahari mengatakan...

untuk Djoko wahjuadi :
dialog yang mengetarkan mas.. dari cinta yang hadir begitu tulus

timur matahari mengatakan...

untuk celoteh bayu 200687:
yah benar adanya.. hidup adalah rentang waktu "menuju mati"

timur matahari mengatakan...

untuk Jahid KLW :
yah benar sekali.. fleksibel.. tapi juga merupakan bagian ketentuan.. "ajal"

timur matahari mengatakan...

untuk Erik :
membayangkan nya saja sudah ngeri mas
betapa ibu adalah nyawa dari kehidupan

timur matahari mengatakan...

untuk Goresan Pena :
duh mbak kata2 yang menggetarkan saya..
sebegitunya bahagia untuk ibu

Arsyad Indradi mengatakan...

Itulah sebabnya kenapa surga ada di telapak kaki ibu. Atau ada kata bijak lainnya bahwa kunci surga ada di tangan bunda. Atau yang lain manakala kita ingin bertemu tuhan, tuhan akan berkata sudahkah kau minta ridho pada bundamu ? Kalau belum jangan kau cari aku. Jadi puisi ini mengingatkan pada kita bagaimana perjuangan sang ibu melahirkan anaknya bahkan ajal taruhannya.

timur matahari mengatakan...

untuk arsyad indradi :
untuk arsyad indradi :
benar mas...
hebat lah ibu.. mengapa tidak laki2 yang di kasih tuhan kesempatan untuk melahirkan?
sebenarnya aku ingin membuat puisi dengan maksud memberi pemaparan tentang pertanyaan diatas tadi.. tapi aku tidak bisa menuliskannya.. kalau mas ada waktu tolonglah buatkan puisi seperti itu,.. saya kesulitan membuatnya

Duniafien mengatakan...

kini aku sudah jd ibu, habis waktuku unt menyayangi anakku..lewat doa, belai, kecupan, ucapan, bahkan lewat amarah..mungkin satu hal yg hrs kt ingat bhw satu2nya orang yg bs kt percaya sepenuhnya hanyalah ibu...ceritakanlah pd ibu, menangislah pd ibu, tersenyumlah bersama ibu...

nurmarachman mengatakan...

*tersentuh baca puisinya*
Ah Tuhan,
betapa aku bersyukur,
masih sempat menatap wajah ibu,
masih sempat tertidur dalam buaian ibu,
masih sempat merasakan hangatnya kasih ibu,
masih sempat melangkah dibawa tuntunan ibu,

& belajar tentang hidup & kehidupan,
dari sosok ibu-ibu yg tangguh,
spt ibu-ibuku..

lintang mengatakan...

berbahagialah para ibu yang mempunyai anak berbakti karena hanya itu yang dapat membahagiakannya setelah begitu banyak berkorban dengan tulus.

timur matahari mengatakan...

untuk duniafien
selamat,,,
tahapan bahagia yang sudah dijalani
sepakat mbak...
ibulah yang akan terus menjadi sumber hidup

timur matahari mengatakan...

untuk nurmarachman :
semoga bermanfaat tulisan ini
trims apresiasinya

timur matahari mengatakan...

untuk Lintang :
semoga mas... seluruh anak bisa menjadi bahagia untuk sang ibu