7.10.2009
Melika
sementara kau barat cahaya tempat kisah tertinggal benam
dulu padamu aku pernah menetaskan anak-anak rahimku yang seluruhnya rindu
berharap setaman kita menganyam rasa, bercinta menjanjikan bunga dan kupukupu tetap bercumbu
setelah sepenggal demi sepenggal masa itu kuturuti sepi
tanpa janji meninggalkan aku sendiri di kota ini dengan rimbun gundah yang tak mampu kusiangi sendiri
tiba-tiba saja kau hadir dalam sebentuk senar tak berirama, hanya senar, menancap di pangkal leherku, menembus ke jantung, lalu melilit dihati dan meluruskan ususku seperti jalan pergimu yang tak mampu kuhadang
seketika...
seketika kau penggal lamunku, irisannya kau tuang dalam secawan bola mata yang terbelah, yang kau jadikan tetabuhan melebihi kecepatan rasa sayang itu sendiri, menjadi dentum malapetaka, melebihi malapetakanya cinta yang sedang terbaring koma.
dan pada...
pada enyah mentari, pada ungsi gugus cahaya, pada kelam, pada segala hitam, akan kudukakan perlakuanmu yang demikian melambungkanku sekejap, seakan-akan kau sedang berdiri dengan jubah putih memagang tongkat yang ujungnya berbintang, lalu kau susun sedihmu, kau hujani aku dengan airmatamu hingga aku mengigil perih
melika
sudahlah bawa bahagiamu lalu sisihkan sedihku
sejak lingkar cincin cintamu terikat, usah kau gaduh aku dengan puisimu
keatas ranjang pengantinmu esok, katakan aku tak mengapa dan tak siapa
takkan ada putar ulang masa
sebab segalanya mulai teduh tanpamu
Hari haru
induk dari kepedihan,menyerat pedih menjadi masing-masing pusara
tingkah perlakuan apa yang berdiam dalam mimpi-mimpi malam ini
terpeluk sekali pagi, entah mana derak yang patah, lalu derai pula airmata
ngilu padamu ini tak pernah kami sampaikan oh nan padam terkenang
yang kami tahu titik-titik pada bilah pedang matahari ini
adalah mata yang beradu dengan mata kami
silau mana yang akan mengedip, lalu nyawa mana kan berpulang
tak terjawab semestinya hari ini hari apa
tak terkira semestinya berapa kematian sudah yang kami tangisi
yang ada esok, lusa dan kapanpun derita itu singgah
perlakukan dengan santun, laksana kita adalah ibu dari mahabijaksananya matahati
sekali waktu dimana nanti peran berganti
akan kami titip luka, pedih dan airmata ini pada Tuhan
akan kami ceritakan kepada anak cucu kami bahwa kehidupan ini begitu menyenangkan
turunlah.. jejakkan kakimu pada bekas jejak kaki kami yang darahnya mengering sepi
Tadarus kesunyian
bayang-banyang pun entah, berlari dari satu padang kepadang lainnya
membaca apa saja yang lekat dalam sadar
mengilhami alam lain yang ada di luar tubuh manusia
satu kalimah itu begitu sahaja
membangunkan detak jantung yang bernyanyi bisu
sujud semesta pada satu yang ada dan tiada
sunnah dan fardhu seirama berlaku satu
ya Tuhanku
tadarus kesunyianmu ini begitu perkasa mempersatukan langit-langitmu besarta megacahaya
hitam dimataku terang bagiMu
alam yang bergandengan, akur menuju satu sajadah sujud yang searah
dengung dan ngiang meremuk redamkan tulang
dari tak bersuara lalu menggema hadir dalam barisan ibadah
dentum mendentum seluruh jagad raya yang terbentang
dalam sunyi, dzikir sahut bersambut padaMu berserah
Kutunggu kau di kilometer debar
seribu kilometer debar
membahas lekuk rindu
yang semakin memar
adakah kau rasakan angin itu menguntit
segala tapak dan bau kita
mengitari curiga
kemana rasa kan dibawa
kemas senyummu
susun rapi seperti semula
mari kita tipu semesta
dengan lari sejadi-jadinya
6.18.2009
Pada satu masa, aku bersama usia
ada rintih dari asbak-asbak masaku yang tidak lagi bundar tidak lagi satu
pat kulipat timbun ubanku yang rekah berpecah belah
berkamuflase menjadi sebatang rapuh
..................
anak-anak itu berlari bersama derik jangkrik
memecah lumpur yang menggumpal dalam celah mata paku
ini magrib kata, ini magrib masa dan ini magribku
sementara aku mengeruh, dalam renung tercekik
mana bagian tubuh ini yang tak berTuhan
biar kutanggalkan kuberikan kepada anjing
Dalam kolam mata lelaki itu bulan menggenang
beritahu aku bulan yang kau genggam
teruntuk perempuan tak bernama
yang menyimpankan malam
turunlah...lalu caci maki kerinduan ini
hinggapi sesak dada yang sepi
: tancapkan sebilah lihat, dalam kolam mata lelaki yang darahnya itu mulai memutih
Tentang madu, kumbang dan bunga yang hanyut
Dalam dendam luka bibir bunga, ditingkah gemulai kepak sayapsayap yang teralun rindu, aku kelu, merafal mantra birahi yang singkap. Oh yang setaman, didihkan wangimu, sampai kita saling memuji digemetar waktu berikutnya, hingga aku khidmat mengeja bahwa yang ditunduk jemari daun itu adalah bungaku yang hijrah dimusim semi, lamunku sungguh..
2
Dan pun kini kau tiba, lekas beringsut dari deru-deru kota pagi ini, beserta geletar kelopak sayapmu, menindih aku berpeluh resah, mengajak maduku menari mendebur awan, lalu kau kan ku hujani kau dengan derasnya laksana batubatu yang terlumuti. atau lebih baik Kutunggu saja kau dipintu taman, mengarak barisan gairahmu. Tapi.... akh, sebabmusabab tiba-tiba kubenci.semula kutenang, lalu maduku asin, hanyut kelaut, kusut, lebih baik senggamahi aku di pantai mana kan terdampar.
3
Ini tipu detik yang menelikung tepitepi kelopakku, mengandung ribuan lelucon tentang asmara dan pertemuan, dalam kelaskelas angin di bibir semenanjung ini, kau dendangkan saja lonceng seribu tangisan pada hanyutku, niscaya akan lumpuh debur laut ini, menepikan ku segera. Tentang madu ini, sungguh, masih terjaga atas muslihat benci yang berdentum dalam bibir ajalku. Lebih untukmu, kusisakan manisan ratu, setelah ini kau setebuhi, jangan kau bermimpi menziarahi kuburku sepatahpun.
: ingat, gugurku saja tak bertabur kemboja.
aku dengar ditelaga itu suara perang, disaksikan tugu pahlawan yang dadanya berdarah
pelurupeluru timah dari bibir telaga
berlabuh di dada
lalu kaku jadi batu jadi tugu
ringih perdu musim hujan
menumpang lalu angin ke daratan
simak spasi aur yang saling bergesak
menyiratkan siulsiul sejuta nyanyian kematian
diantara semak ilalang hadir bunga-bunga
berbau darah dan mesiu
tercium sungguh, ditingkah berisiknya suara dentuman dan senapan
aku beranjak, meninggalkan telaga tragedi sambil menahan bulu kuduk yang semakin nakal
Doa kolam ikan
tak ada bagian rezeki yang kudapatkan pagi ini
jangan harap akan ada gengam telapak tangan terbuka untukmu
menyelamlah, kais kebawah sana apakah bagian rezekiku yang tenggelam disana
lihat..!
ha..ha.. matanya melawan marah
melemparkan lumut, kotoran dan seluruh airnya yang tak bisa lagi tempat untukku bercermin
sekedar melihat apakah di wajahku ini masih ada lelah setelah semalaman berperang hujan
ikan buruk dalam kolam tergenang kumuh
jangan tatap aku, arahkan bola matamu pada pencipta
pintalah padaNya dengan ibadah dan ibamu
semoga saja doamu lebih laju, mendahului doaku yang sudah kehabisan akal
6.04.2009
Kusut Api
memperhatikan anakanak sungai
yang di dalamnya kita temukan kusut api
tentang peran lakon dan puisi
mengapa sedih itu menjadi air?
katamu menikam lekat mataku
sungguhkah kita dari tanah yang terpijak ini
lalu berlari bermain bersengketa berupa-rupa diatasnya
.........
kita tidak sepenuhnya tanah juga air
yang kuterima dari ibu semusim lalu
kita menari kawan
merunut kisah kusut api yang tenggelam dalam arus sungai
jika masanya tiba purnama terbelah
kutunggu kau disini bisikku di dinding telingamu
jangan kecoh lagi aku
dengan pertanyanmu tentang duka lara
: airmata biarlah airmata, huh.
Untuk Temanku: Mh Poetra
selamat jalan sob, hati-hati, jaga dirimu baik2..
semoga sukses,
nanti kita tambang lagi "kusut api"
Usai
aku tak mampu lagi menerka laju angin di matamu
aku tak mampu lagi menghitung lengang di hatimu
semburat senyum kusut, selalu menjerat temali jantungku hingga tak berdebar lagi saat menciummu
Kau giling aku wahai kekasih
sampai aku pecah dan terasing
kau mungkin tahu, jazirah mana lagi yang tak kusinggah
dan ini, sungguh menelantarkanku menjadi asing dan mengasing
Sekali pagi bersama deru angin
kau jenguk aku dalam keresahan
dengan mendung aku kau tegur
lalu kau cubit kau pukul kau tindih kau pijak kau matikan kau tamatkan kau bisikkan
: mungkin Tuhan kita berbeda, sehingga cinta kita tidak pernah sama sayang
Jibaku
telan pahit lalu berjibaku, mambaca desisdesis dari dua katup belah bibir
auman ditutup putus menderu jua menapak jua menggadai jua
didih sak wasangka dalam api jerang darah debu marah kayu suak tabir
: gumul beradu maju, benar beradu padu, Tuhan Beradu Satu, kita lumut jadi batu
Asap tungku emak
Mukaddimah
semoga jangan
sajaksajak yang lahir dibumiNya ini
menjadi berhala baru dalam jalan lain penyembahan
penyair bukan jibril
yang Turun dengan jubah cahaya
lalu singgah ditengah manusia
membersihkan hati dengan zamzam hingga kudus,
Tuhan kami
sajak kami biasa
tak firman dan tak wahyu
tak ditulis dalam surga
tak bararti apaapa dihadapMu yang maha Indah
: ampunkan kami yang sempat terbawa
"Puting Susu"
tidak usah takut kau mencumbu
mari nestapa ini akan kita susun bersama
menjadi sayapsayap kedamaian menuju bulan
dan...
: PUncak marah atas TINGkahmu yang menyuSUn Kecewa, kini SUdahlah kutinggalkan lupa
5.16.2009
JUDUL
tentu bukan aku atau kau yang menjadi pagi
debur mendentum dada kelam
sunyi menggelar sengketa hati
dan kita asing, terpaku meratap akan tanya
sampaikah jiwa pada puncak peretas mimpi?
dimana sumpah dan peluh tlah terkuras dalam
malam membungkus kita kawan,
di batas sadar dan resah,
segala berlalu!
dalam sepucuk sajak cinta berbungkus debu
kau selipkan ragu yang membaru,
tanyamu,
dalam keakuan yang tak putus menjunjung sedih.
kukatakan saja dari sini aku akan lebih hidup
cukup hanya dengan mengenangmu,
; sebagai nyala yang tak padam
dingin semakin merasuk, gigil membuncah sunyi
malam beku! Selimut sajak mempertebal rasa,
kita masih terjaga
* Apresiasi untuk kawan
MH Poetra
Mari kita yakini.. kita adalah perang dalam perang.. dan kekuatan itu adalah diri kita sendiri
5.05.2009
Kami adalah Bagian Zaman yang belum berhenti mengerang
punah melamunkan benak yang bersidekap diam
habis masa tertinggal dalam ketinggian yang menjadi puncak orgasme yang terlupakan. ku pun tahu, yang kita pikirkan adalah zaman yang kita diami adalah kesunyian tanpa batas, yang berlalu berlalulah,
setitik yang kau pajang menjadikan pancuran penghabis ruh dibadan
sementara kami yang apung kian tenggelam, sekalipun tidak digenangi berjenis apapun selain mantra-manrta yang dibacakan berbisik.
biar gelora dan amuk kami tuai atas perselingkuhanmu
sebab kami adalah zaman dari kesunyian yang kau onanikan
tubuh yang gemetar adalah pertanda setia atas murkamu
yang sampai saat ini belum berhenti mengerang
4.30.2009
Bukan Jejak Telapak Kakimu
pada setapak jejak kakimu
tapi aku lebih pada
bentang seluas jilatan ombak yang belum sempat kau pijak
aku bukan lembaran yang sudah kau sajakkan
hingga aku menjadi kesimpulan yang ada pada genggamanmu
tapi aku adalah buah senggama perenunganku
dari segala yang mengendalikan aku, bukan kamu
aku akan berlalu kemana saja inginku
tak usah kau membuka pintu rumahmu untukku
dimana aku terkapar disitu aku mati
dalam caraku yang selamanya tak pernah memenuhi caramu
4.27.2009
Semedi Kata
4.23.2009
Tuhan... Beri Aku Jeda Untuk Berperang
sementara tetabuhan kian gumuruh, keapaadaan senantiasa bisu, terseok disandung oh disandung, yang tak terlawan menghujam bumi mencaci maki.
pelita redup kianlah redup disambar angin nan salah jalan
demikianlah kisah hingga yang terpendam makin membenam
kuputus-putus cercah cahaya dengan telapak jari
maksud hati yang menghitam, menuntut balas atas doa yang tiada tersempatkan
Tuhan Oh Tuhan yang bukan perempuan
apa daya mengirim pinta yang haruslah sampai dilangitMu segera
hamba manusia seperti manusia
bagai pasang menggenang, pun jua bagai surut nan menyurut
duhai takdir duhai nasib mari berperang
amuk yang amuk sungguh makin tiada tertahan
sebelum tega tikam-menikam
tunggu sejenak aku ingin beristihqfar
4.20.2009
Tak kuberi Judul
tapi aku mulai lalai menidurkanmu
hinga sepagi ini kau masih setia mengetuk biduk kayuku yang dipeluk lumut
berlomba dengan dengus nafasku menghantar ransum cintamu
umpan sudah kutabur,kail sudah menyelam
biarkan kita saling menunggu
hingga bau dan rupamu menjilat-jilat kayuh perahu yang menuju
tunggu aku yang ingin merajai seluruh bahagiamu, di tempat biasa kita bersetubuh tatapan
pun segulung jala dan ombak yang kukawinkan
bermain dilautan, bercinta menghadap awan, berharap di langit bersiteguh dalam karang yang kesemuanya demi mu yang sedang menjalin seprai tempat tidur untuk kita nanti malam
dinda, nanti setelah sampai, kau dekap aku seerat-eratnya dekapanmu
dalam bau tubuh ini akan ada pengertian yang akan meluluhkanmu untuk segera berserah rasa
4.18.2009
Ketika Aku Berkisah Kita
aku bukan duniamu
bukan juga harimu
aku hanya bagian dari apa yang kau rasakan
jangan kau jadikan aku yang belum tentu setia ini
menjadi apa dari adamu sepenuhnya
sebab jodoh belum dibocorkan Tuhan
Nikah Embun Pagi
yang kutatap sedemikian telanjang
berlari kecil gerigi kerikil
menimpa ubun-ubun pagi
senyap hening kubahasakan cinta diam-diam
"huh..aku terima nikahnya embun dan pagi
dengan mahar segenap yang tak kua miliki, .. TUNAI"
4.16.2009
Tafsir Cinta Tak Terterka
menerka cinta yang dikandung
menebak rindu yang terpasung
sampai menggigit bibir pun
tak mampu kujumlahkan
cinta pergilah berlari dibawah hujan
basahkan seluruhnya
mungkin
hanya dengan ini aku mengerti
cinta disiram hujan menjadi basah
Anjungan Perahu Bercadik
kutulis dikau pada bau dan rembulan
menjadi malam dan pelepah terlama
menghadang langit turunkan segera
duhai gelisah nian menyengat
terpecah jua kan kiranya
memancang sauh menjulur mata
tentang tanah di lenguh camar
bersajak anjungan perahu bercadik
pulang senja menjemput bekal
dirimukah yang sedang menyemai
menabur tumbuh menanam tuai
berkisah riak di bawah awan
membaca mantera menahan dahaga
Ditepian Ruh yang Hilang
kami dan segenap yang ada pada adalah kesementaraan yang tiada terbantah
mengayuh dan menjaring kecintaanMU dalam sela-sela keterjalan gemuruh iblis mahasesat
melayari semilir, pun jua badai yang menjadi keniscayaan bentang kehidupan
dan akan kepadaMu lah kami kembali
hingga yang tertinggal adalah kesempatan
dari kisah-kisah persaksian
sebab ini akan di hitung oleh timbangan mahakeadilan
dan turutlah padaMu
yang di panggil dini hari
Ia adalah milikMu sepenuhnya
sementara kami berjalan menuju terdahulu yang telah sampai
ditepi Ruh yang hilang
adalah kebenaranMu yang datang
sungguh..
kerelaan adalah kepantasan menjumpai hikmahMu Tuhan
Ia yang Telah Menjadi "Jalan"
tanggul tua merebah di dini hari membawa aroma murka
membentang ia yang nyata menjadi tragedi dengan ruah setinggi teriakan menyembunyi azal
tiada bisa... peran-peran itu hilang sekejap menjadi diri-diri yang tiada
apapun dia dari kejauhan sudah terlihat menjadi masa yang tertinggal diam
sajak-sajak terbit kehabisan bahasa sebab kata yang selalu berduka
doa dan lantunan ampunan pertaubatan menjadi pengisi penutup kisah
sungguh demikianlah yang tergerak dari mulut ahli musibah
perenungan itu tampak jelas
dimana Tuhan membagikan teguran dalam air yang semula tenang
situ gintung
telah menjadi "jalan"
(dimuat di Tabloid Mahasiswa Suara USU edisi 69/XIV/April 2009)
4.14.2009
3.30.2009
Jalan Lain
kuyup bersama angsa pulang ke tepian
ikut terbawa permainan hujan
yang rintik di daun mata bersilauan
deras ia menindih mati kaki
lalu menghayut fikir yang terbentur jalan
oh.. aku yang merenangi nasib
kehilangan cara untuk bertahan
sementara aku berlabuh di lumpur
teruskanlah doa memapah harap
mungkin aku memilih jalan
dalam daratan yang tersisa
Teman Kata
memfilsafatkanmu, mensejarahkanmu, membahasakanmu
lalu menghidupkanmu dalam kata-kata
hingga kau bisa bercerita banyak tentang hidup
kau teman kata yang hilang setengah musim
setelah dingin sendiri di gigit malam
hampir kering di tunduk terang
aku percaya dahagamu kan kosong sekalipun ku tinggalkan kau di padang kerontang
dengan nyiur yang selalu melambaikan pesan ku dalam separuh waktu
menyempatkan padamu sapa bersalam rindu
lalu menjejakkan kisah yang jua kan ku lamunkan padamu
dipertemuan februari hujan
mari kawan kita membaca sajak dengan khidmat
Tiada Kau Yang Kan Ada
sampai terkatung aku entah...
memfirasatkan mu selalu dalam bentuk kemauan keindahan milikku
hingga senja buta itu menegur, aku adalah ketidakmungkinan untuk mu
kembalilah kau surut ke pantai
tunggulah ombak menjilat angan
angin adalah pembawa
dari segala kekosongan rasa
semakin aku menyadarkan itu
aku semakin dihempas entah
di kota mana ia tidak ku temui
disanalah aku terdampar selalu
ini aku mengurung kisah
melingkar cerita
menimbun keinginan
mematikan langkah yang akan sia-sia
sebab hati itu tiadalah paksa
katamu di sebuah pesan singkat dini hari.
3.28.2009
Gemuruh Subuh
mati kerandakan sesejuknya pejam
bola bening lihat tertaut diludah deru pagi menjilat terang benderang
aku yang hidup, lalai manja kumandang subuhMu Tuhan
3.24.2009
Doa Gerimis
membawa kepada sepetak ruang tempat bertarung nestapa
oh pada temaram ku dukakan gelisah
gerimis beringas menggulungku pada ibu yang ku harap tidak terluka
aku mencarimu di kepingan manasaja tempatku berkisah
menyandarkan segenap, seluruh. segala, sedemikian rupa keperihan
ini malam selasa basah
Tuhan menegurku sekiranya
ini malam memberi sebab
untuk pagi ku yang akan resah
ini malam aku bermunajat kepadaYang Rahram ya Rahim yang Esa
sujud ku dalam padam keingatan yang hanya nyala padaMU
Aku bermohon untuk telapak kaki yang berisi surgaku
andai cobaan itu kau hadiahkan sebagai bentuk kasihMu
jangan akhiri keputusanMu
sempatkan aku untuk bersama memberinya bahagia
Pagelaran
berubah wudud
bertukar rupa
seperti manusia mencontreng manusia menjadi Tuhan
3.23.2009
3.22.2009
Kalimat Kusut
Aku menantang
mencariMu di langit yang tak pernah menjatuhkanku uang seperti hujan
"nikmat mana lagi yang kau dustakan"
kalimat kusutku
mundur menyurut
betapa meruginya aku jika di paraghrap ini Kau cabut nyawaku Tuhan
sebelum aku sempat menulis kesadaranku
ampunkan aku Tuhan
memanusiakanMu dalam kekalutanku
12.26.2008
Wanita Bermata Biru
aku masih mengenang baumu yang kususun rapat
menjadi setumpuk taman
kan kau dengar decak kumbang yang sujud pada setangkai mawar memberi isyarat
untuk mata birumu yang berkedip malu
12.16.2008
Masa Kamboja baru kutabur
dimana aku harus keluar masuk rahim lara
oh kau yang sedang menunggu waktu
sebegini nyatakah cerita ini menjadi kisah yang teruntai
jangan kau lupa katamu di dalam sesak-sesak nafasmu
terakhir ini aku membulir air mata untukmu
kutinggalkan kau sebab senjaku tiba
hitung butir pasir itu, lalu gumul ia menjadi jejak.setelah itu kau taburi kamboja dikuburku
yah begitulah
dimana yang tertinggal adalah aku
mengusung bayangmu selalu
hingga beribu musim berlalu
12.15.2008
Orang-Orang Lapar
pagi buta dibentak nasib
siang diperdaya nasib
malam dirajam nasib
lalim benarkah kau yang menganiaya ku yang belum makan
*Revisi*
12.14.2008
12.09.2008
Hingga Setan pun Terharu?
dari menunduk
hingga tersedu
"apa yang ditulis penyair hingga setan pun terharu?"
12.07.2008
DirumahMu air mataku derai
berlama-lama di gaduh penggoda dari bara api nerakaMu
semakin tenggelam ku sujudkan diri dalam rumahMu
Mekah yang berselubung takbir membuncah air mata
Mimpi
melabuhkan segenggam asa dalam bukit-bukit menjulang ke awan
menyunting wanita-wanita yang tak pernah di caci terik
hingga membayang udara dalam tarikan nafas adalah surga
teruslah menjejak pasir-pasir dalam angkasa lamunan
membumbung memuncak menanggalkan beban di pundak
mengayuh setingi-tingginya kesenangan
meramu mimpi di kutub bumi dini hari
Duhai Nestapa
perihnya sudahlah senja
bak peniti luka mencucuk usia
renta ia dirundung air mata
duhai nestapa
tanggalkan ia yang diujung sana
gemetar tegak lapuk dicerca genangan siksa
merenda duka merajut derita
duhai nestapa
tiada usai jua padam kobaran dera
dari satu darah kedarah matanya
menukiklah tajam sembilu dipangkal lehernya
Sumbang
cinta yang berderak-derak di pangkalan telinga
mengingang laju kumuh
bersenggama hina kau bertanya pada sengsara
sepasang sekoci berlumur lumut
membatu bersama karang
daripada kau terjungkal ke lautan
mari kita eja perhelatan dengan semestinya
terkutuklah
cinta ditambah cinta menjadi sampah
terciumi sengatan membesarkan arwah di dalam kubur
sungguh..kuncilah hati sebelum kau terbawa digiling kunyah
peradaban kau gilir dengan martabat sumbang
kau gulai mentah dalam belanga kubangan air mata
mendidih jantung kesumat menatap mata tersumpal bara
jangan cinta kau ucap perlahan pada yang lapar di pesisir hujan
pejabat desa bersukutu dengan setan dengan tengkulak
merajai iblis dalam sumpah serapah memutar masa
duh..sampai setega ini cinta mereka simpan pinjamkan
terkadang gadai sudah dalam meja perjamuan bersama pimpinan setan
Badai anak nelayan
menitikan racun dalam gamang
menyibakan luka-luka seperti terbawa ombak
kepedihan yang teramat menganiaya sudah singgah dalam senja
ada dua bocah setengah berbaju
berbaris di jilat badai
menelentang menantang hujan
sementara di balik punggung-punggung mata kail menancap pongah
anak nelayan dalam persaksian
menghitung setiap derak nyiur yang mengerlap merantai kunang-kunang
melambung setinggi bintang-bintang kejora
menyapu langit dengan ijuk luka dan lidi nestapa
12.03.2008
Maaf…Kau Terlambat Datang Jandaku
Tiada mungkin bisa ku sambut kau berlutut
sembari memakai senyum lama
menyuguhkan senja penyambutan dengan pertunjukan maha bahagia
sadarkah apa yang kau lakukan akan menjadi luka yang berulang
sebab lembaran cerita yang kususun sampai sedih lembab sudah berkecamuk tempias
terlalu larut aku menantimu dibalik tirai yang tak pernah kau singkap
sampai aku hampa menghamba pada kesunyian
menjatuhkan tetes belulang yang lebur
menganaktirikan kebahagian yang seharusnya kubesarkan
sementara kembali itu kutunggu dengan berkecamuk ragu
hingga terompet penanda babak kita telah usai menggema lantang
kau berakhir,tanpa ada harapan sebab telah kumulai episode baru dengan peran sama
ijab kabul telah yakin kuucap kembali dengan penyerahan menyeluruh
Untuk Istri Baruku, Sarina
Agar aku bisa luput dari bayang-bayang lama
Cemburu saja sebab dengan itu aku merasa dicintai
Tak perlu kau beradu kata, asam garam cinta dan tipu daya sudah begitu akrab denganku
Sarina istri baruku yang ku nikahi tadi pagi
Aku pemain lama yang sudah mulai lupa dengan lapangan yang akan kumainkan
sejak gawang dibawa pergi bersama mantan istriku 6 tahun lalu
dan selama itu aku tidak turun lapangan
Sarina maafkan aku
Diam-diam aku memetik mawar yang pernah ditanam mantan istriku dibelakang rumah
Itulah yang kusematkan ditelingamu senja ini
Mungkin inilah serah terima cinta menurutku
Mari kita mulai babak ini
Semoga malam ini rahimmu meramu janin laki-laki
Aku berharap akan ada yang menemanimu setelah aku mati
Menjaga saat godaan suami baru mengganggumu
Segelas jamu kuat kutelan habis
Lampu mati
Aku memulai kewajiban
Setelah itu tak mampu kuceritakan
Saat terbangun sekujur tubuhku keletihan
Pledoi Puisi keduapuluh
tanpa kompromi mengaduk-aduk hati
membuat cita rasa
yang akhirnya asin, seperti air mata
berbeda jauh
antara tadi malam dan siang ini
tetapi tetap hadir menghakimi
aku yang menjadi tersangka dalam pengadilan hidup
puisi kedua puluh yang aku tulis siang ini
menjadi pledoi yang kubaca diam-diam
maafkan
aku menyesal..
Tanpa Judul hanya kerinduan
di lahirkan sama dengan kelahiran ayahku
tentu berbeda tahun
ah untuk apa ini ku sebutkan
aku dahaga
dalam kerinduan
belaian ayahku
mungkin itu yang ingin kusampaikan
Perjanjian Siang Ini
Menutup diri
Mengurung hati
Mengunci akal
Dalam perenungan panjang melelahkan
Sebuah kesimpulan
“berjanjilah… untuk tidak bolos kuliah lagi”
Pesan Untuk Guru
Selamat siang
Ajarkan anak bangsa ini tentang kehidupan
Semoga kelak mereka hidup dalam kedua belah kaki mereka sendiri
Hitungan Detik
Tiga desember duaribu delapan
Usiaku hari ini
Bertambah beberada detik
Sawah-sawah Harapan
Menumbuhkan benih-benih hidup
Yang tertanam seperti esok
Menjadi penjaminan akan kelangsungan
Silahkan berganti musim
Deraskan hujan
Terikkan mentari
Hidup akan terus berputar bersama jarum waktu
Inilah nyata
Detik ini..
Yang belum sempat tertulis sudah berganti ke detik berikutnya
Begitu singkat
Tanam harapan
Tumbuh kembangkan hidup
Dalam waktu Yang melaju
Akan seperti apa esok yang masih tetap misteri
Warisan
Aku berhenti menulis
Maukah kau
Menjadi saksi bahwa aku pernah disini menulis
Manakala
Aku berhenti hidup
Maukah kau
Menjawab bahwa aku pernah hidup disini
Aku berharap kau menjadi roh hidup dariku
Melahirkan jiwaku
Menjadi ganti abadi dari ketidakabadian ku
Menjadi pelipur lara atas kerinduan
Kau yang ku tulis
Ku wariskan akal pikirku hari ini
Dalam bentuk mu
Jadilah saksi hidup dalam kematian ku kelak
Kau yang tertulis
Menjadi tulisan
Adalah kisah panjangku
Yang bercerita pada malam dan siang saat aku berhenti menikmatinya…
Satu-satunya
Keinganan adalah harapan
Dan harapan akan hidup bersama gerak-gerak mu
Ibu yang masih bekerja sampai dini hari untukku
Satu-satunya
Hidup dalam kehidupan
Adalah ibu
Yang hidup dalam sanubari bersama harapan
Satunya-satunya
Harapan
Adalah ibu
Yang tulus memberi harapan dalam kehidupan
Wakil Rakyat Para Pedagang Sayur
Pedagang sayur punya wakil rakyat pedagang sayur
Dalam gedung rakyat
Yang bangga hanya makan sayur
Intelektual Penjajah
Judul orasi mahasiswa pagi ini
Sementara
Ia begitu kenyang dalam kebungkaman itu
Hidup Mahasiswa
Teriakan yang semakin parau
Bahkan sumbang
Karena ia begitu kenyang dalam teriakan sumbang itu
Hidup Rakyat
Teriakan yang semakin sepi
Bahkan mencibir mengejek
Karena ia begitu kenyang meneriakkan cibir pada keramain kelaparan
Mau jadi apa kampus ini
Jika potret yang kau tampilkan
Adalah drama kekenyangan bersama jamuan penguasa
Intelektual penjajah akan terus lahir dari rahim kampus yang lupa ingatan
Kawan-Kawan Anti Kemapanan
Bawa aku mengais hidup
Seperti harapmu yang begitu liar
Hingga jalan ini kau maknai sebagai kehidupan
Kau memetik ia dari setiap tangkai
Kau terjemahkan wanginya menjadi mawar
Ku resapi ia menjadi keindahan
Yah.. kau begitu menikmati hidupmu kawan
Saat-saat kapan kau sedih ;tanyaku memasuki ruang anganmu
Hanya gelengan kepala ; begitulah perasaan
Damaikan hatimu dengan maha penyerahan dalam ikhtiar
Niscaya kan kau dapati guru kehidupan yang berada di hati mu selalu
Duh kawan
Kau seniman hidup
Memerankan peran yang kau sutradarai sendiri
Dalam naskah yang kau tulis sendiri
Dengan latar yang kau susun sendiri
Disini Aku setia menunggu pementasanmu berikutnya
Entahlah
Semakin beriak
Sementara aku tau ini begitu dangkal
Ada apa dengan hidup ini yang entahlah
Enggan
Aku menuntaskan kebosanan
Yang bercengkerama bahagia
Dalam detak kehidupan ku siang ini
Enggan
Aku memilih jalan
Sementara Begitu syahdu irama terik
Membakar ku dalam-dalam hingga menjadi abu
Enggan
Aku tau ini seperti lelap
Apapun mimpi
Toh kesadaran adalah kenyataan
Duh…
Jalan ini menuju apa ya?
Perdebatan dalam diri semakin nyata
Aku betah memuja kebebasan
Sementara persekutuan penguasa buas menyeretku dalam aturan edan
Umpama Ini adalah Perang
Antara setan dan malaikat
Yang beradu dalam hati
Maka aku adalah pedang setan yang menembus kulit malaikat
Mengapa demikian
Tanya bumi dan langit
Sebab aku membunuh kebajikan dalam hati
Dengan genggaman kebathilan
Umpama ini adalah perang
Aku adalah pengukir kisah
Yang melakonkan kejahatan
Hingga pertumpahdarahan pecah antara kedua sisi kehidupan
Baik dan buruk
Hitam dan putih
Setan dan malaikat
Telak saat ini, aku berada di golongan hitam bersama setan yang buruk
Umpama ini adalah perang
Yang beradu dalam hati
Sungguh..
Maafkan aku.
Apa Lacur..!!!
Saat usai itu ku beri tanda terima
Perjanjian tentang esok
Ku ukir berani seperti pemimpi
Apa lacur
Tentang aku yang mengaku aku
Tentang pecundang
Melacurkan diri dalam angan
Hisap sebatang rokok
Mengepulkan resah
Membawa pesan tentang kisah
Pemuda desa pulang menghadap rumah bersama luka
Kematian Harap
di tandu lah kecewa dalam keranda luka
terseok-terseok menuju rumah tanpa secercah cahaya
para pelayat sinis menatap, mencibir dengan gerah
aku didalamnya
terbaring kaku menunduk ke tanah
sangat sempit rongga dada
seperti adegan kematian yang berbeda kisah
dalam tandu ada kecewa
dalam keranda ada luka
dalam iringan ada sesal
bersorak pelayat mengarak kegagalan yang belum dikafankan
Aku Telah Menuai Sesal Bu…
ku iris dengan debu
ku sayat dengan abu
hingga lumpuh ibu membelaiku dalam lelap
tunduk ibu
semakin ku tekuk dalam
lelah ibu
ku lelahkan dengan sesal
masihkah ada tempat
untuk harapan yang pulang dengan sesal
sambutan apa ya ibu
jika kau dengar aku menceritakan kegagalan
Harapmu dik
jangan kau temui aku saat ini
aku sedang berlumur duka
mungkin saja tiada lagi esok untuk kita bercerita cita
maaf dik
aku memilih jalan salah
entah di persimpangan mana aku ragu memilih langkah
hingga dihadapku jurang ini tiba-tiba menganga
aku harapmu dik
yang tiada memberi harapan
maafkan abang ya
yang telah usai dalam kalah
Selamat Mati Kau Penyair
Sajakku tunduk
Puisiku rebahitulah penggalan cerita
Tentang syair yang berlari pergi
Meninggalkan bait-bait yang belum tuntas
Jelas menipu diri ia penyair
Tertulis jelas “maaf, jika hidup adalah ini, maka aku pun memilih punah didalamnya”
Lagi tentang sajak yang membela diri
Telah mati ditinggal mati
Untuk apa kau penyair mencerca diri
Sedangkan malam masih saja kelam
diakhir kisah
rebahlah puisi sendiri
berkaca-kaca menatap nanar pada penyair
yang memilih pergi meninggalkan kisah
Gerhana Awal Desember
Menyelinap daun-daun mata
Menjadi seonggok batu kali
Menghimpit ku yang benam di dalamnya
Gerhana yang kuandai menjadi kebuntuan
Pekat dan menampar-nampar
Kedua belah tangan yang mengarah muka ku sendiri
Sudilah kiranya waktu memutar lagi saat purnama
Mengapa disaat gelap ini
Aku mengingatmu sang cahaya
Mengapa disenja merah
Aku menganiaya diri menjadi durhaka
Harap kembalilah
Aku dirundung cemas yang begitu menyiksa
Langkahku hampir usai
Tinggalah sesal yang ku bingkis untuk cerita anak cucuku
Aku Tuntas Mak
Andai
Dan apabila
Saat logika hidup tanpa peranan menumbuk batas
Mencapai titik-titik yang kaku
Melontarkan kecendrungan mengakhiri perjalanan
Berhenti dalam garis gagal yang menjadi buaian proses panjang tanpa nilai
Dosa apa yang telah aku hamili hingga melahirkan janin pasrah
Tuhan
Aku takut
Sebentuk kecewa telah menampakkan diri
Angkuh berdiri di depanku menjadi bayangan ku sendiri
Aku pulang mak
Lagi-lagi dengan ketuntasan hidup
Sambut aku lagi
Yang telah kalah telak tanpa apa-apa.
11.28.2008
Gila
jangan panggil aku wakil rakyat
aku tak pernah jadi rakyat
kalau kau sebut lagi ku pecat kau jadi rakyat
ha...ha..ha
mau marah?
silahkan
hebat mana marah rakyat atau marah penguasa?
aku pejabat
kau cam kan itu rakyat.
sudah rakyat kok berani hidup?
mati saja sebelum nasibmu ku tiup
ha..ha..ha
itu ketawa pejabat
coba kau rakyat
ketawa pun bisanya pelan
aku pejabat
sering naik pangkat
uang berlipat
rumah bertingkat
makan uang rakyat
hushh..mulut bangsat
biasa bohong kok tiba-tiba jujur
Gelegar
hingga seluruh rimbun galau tersibak menganga
menenggu lipatan pengkabaran itu terurai
mas aku mandul ; katamu sedu sedan
gelegar.!!
kudekap rahimmu yang akan selalu kosong
ku tiupkan nafasku yang sesak di ubun-ubun mu
menandakan aku mulai belajar tegar lebih dari ketakutanmu
mengurut dada sesabar-sabarnya
kutahan marah sejadi-sejadinya
mengapa sepagi ini kau bentur aku kabar buruk
bukan kah perjanjian itu tak pernah sadar kusepakati
jadilah ia cerita
seperti pasir sungai
terbawa hanyut
entah sampai di muara mana harapku kandas
11.27.2008
Haruskah aku SEKOLAH atau mungkin lebih baik SELAMAT TINGGAL SEKOLAH?
semakin seorang itu sekolah,
semakin tidak kreatif ia.
Karenanya, semakin takut dia mengambil resiko.....
Tak banyak yang menyadari
bahwa sejak sekolah,
sebenarnya seseorang telah menyiapkan diri
untuk hidup miskin
"Purdi E. Chandra"
Benarkah Sekolah Konvensional Indonesia adalah Sekolah yang Sebenarnya?
parameter :
harus mempelajari mata pelajaran trigonometri/matriks dll sementara anda bercita2 hanya menjadi seniman?
serba ketakutan dengan PR yang menumpuk sekalipun harus menyontek (selalu tertekan)
satu hari otak kita harus dibolak balik antara mata pelajar biologi/agama dan bahasa sekaligus (2 jam satu mata pelajaran)?
Disiplin yang begitu mengikat dengan penyeragaman secara total
Patuh kepada guru sepatuh-patuhnya sekalipun nilai kepatuhan itu terkadang tidak pantas dengan beragamnya pola tingkah pendidik
jika pendidikan itu hanya bisa diajarkan melalui Hati... ternyata Guru Killer selalu menghantui
setiap ajaran baru dan sekolah baru orang tua kurang mampu akan menambah/menumpuk hutang untuk membeli seragam/buku pelajaran dsb...
ketika sekolah seperti melebihi rumah ibadah..(banyak orang tua akan merasa marah besar ketika melihat anaknya tidak sekolah... tapi bagimana jika anak tidak beribadah?? apakah masih marah semarah anak tidak sekolah?
sekolah murah dan sekolah modren akan terus bermunculan di negara ini.. dan berbahagialah si kaya yang bisa masuk sekolah mewah dengan segala fasilitas.. bagaimana nasib simiskin?
dan ingat pada akhirnys ada standarisasi,,,standarisasi NIlai kelulusan Ujian nasionalstandarisasi IPK para pemburu kerja
satu guru berbuat salah dalam mentransformasikan ilmu maka seluruh murid akan terkena dampaknya.. dan jika satu murid salah tidak berpengaruh secara keseluruhan.. betapa mudahnya pertaruhan masa depan itu... (percaya kah anda guru/dosen itu layak menjadi guru/dosen..ingat izajah palsu/budaya mengopek dan mencontek.. budaya KKN... "bodoh berduit akan mudah" dan "Pintar tidak berduit akan jungkir balik....
dan pelembagaan pendidikan itu akan dilaksanakan selama 17 tahun usia anda... ditambah 5 tahun perkuliahan..
Sekolah yang Salah Kaprah?
tanya kak seto..
seorang pemerhati anak dan juga ketua KOMNAS perlindungan Anak.. mengapa beliau tidak memasukkan kedua anaknya di lembaga formal sekolah..
tanya lagi
mengapa pendidikan sekolah dasar harus 6 tahun?
mengapa SMP 3 tahun?
mengapa SMA 3 Tahun?
jika usia rata2 anak indonesia masuk sekolah adalah 5 tahun maka dibutuhkan masa selama 17 tahun hingga anak bisa selesai dan menamatkan diri dari jalan panjang sekolah...setelah itu masuk ke perguruan tinggi dan membutuhkan waktu 5 tahun untuk bisa meraih gelar sarjana.. berarti butuh usia 22 tahun untuk menjadi sarjana di indonesia...?? apakah runutan waktu ini tidak begitu lama?..
dan selama 22 tahun sistem pendidikan bersekolah memberi kewajiban kepada orang tua untuk terus memberi subisidi kepada anak.. (apakah ini bentuk sebuah kemandirian???
tanya lagi
untuk orang tuajika rata-rata usia pria indonesia berumah tangga adalah 27-28 tahun. pada umur 29 tahun akan mempunyai anak.. 29 tahun usia orang tua ditambah 22 tahun usia anak menamatkan pendidikan meraih gelar sarjana berarti pada usia 51 tahun lah orang tua indonesia bisa melihat anak meraih gelar sarjana,,, "butuh waktu lama ternyata"...
dan satu hal terpenting lembaga sekolah telah salah kaprah
lembaga sekolah bukan tempat ibadahsehingga menimbulkan kewajiban terhadap diri orang tua untuk menyekolahkan anak di lembaga sekolah.dan jika tidak menyekolahkan anak akan dianggap berdosa..dan lebih parah si anak secara tidak langsung akan keluar dari lingkungan pertemanan dengan usia (tidakkah kita sering mendengar "anak tidak sekolah adalah anak malas/anak nakal/anak bodoh???" dan "jangan berteman dengan si A yang tidak sekolah...
sistem sekolah secara tidak langsung menciptakan kasta dalam masyarakat...orientasi angka/nilai..itulah sekolah indonesia
nilai 10 adalah pintar
dan nilai 5 adalah bodoh
tapi sadarkah kita ada banyak permainan tolol dalam meraih nilai tsb
kopek dan contek
jangan bilang anda tidak pernah mengopek dan mencontek..dan jika ada yang siap mari kita buat penelitian berapa persen jumlah siswa pengopek dan pencontek di negeri ini?
atau lebih mudahnya berapa persen jumlah siswa yang masih tersisa yang tidak pernah mengopek dan mencontek di negari ini?
Akan adakah proses memanusiakan manusia dari tindakan ini?
Sementara sampai detik ini tidak ada penekanan yang tegas tentang kopek dan contek yang mungkin sudah mentradisi di negari ini.
(Sebuah Kegelisahan yang menggila.......)
mari kita berdiskusi
saran referensi
Dunia Tanpa sekola Karya M. Ihza
Selamat tinggal sekolah karya Yusran Pora
Sekolah itu candu karya Room Topatimasng
Aku Pencipta
Yang suka bermain air dan api untuk mendingini dan memanas hati
Terkadang meyuruk kedalam gua penuh jaring laba-laba mencari kata
Aku gila dan merdeka dengan apa yang terlintas di kepala
Tapi aku tidak buta
Aku Pencipta
Dari segala apa yang kutumpah disini
Amarah yang ku lampiaskan adalah hembusan-hembusan dahsyat kepunyaanku
Silahkan menggelinding menjadi teriakan-teriakan nyaring
Tapi aku tidak tuli
Aku pencipta
Mencipta logika ku sendiri
Mencipta perasaan ku sendiri
Yang ku ciptakan wujudnya
Atas apa yang aku tuliskan disini
Aku pencipta
Hanya pada apa yang kutulis disini
Maut di Setangkai Mawar
jangan kau rendam takutku sampai mengigil begitu
cabut saja baik-baik seperti tembang kenanangan yang mengalun pelan
atau kau selipkan kabarmu pada setangkai mawar
sampai aku merasakan kau ada setelah aku menciumnya sampai ketiduran
sajak tentang kematian yang dicandatawakan
adalah ketakutan atas perlakuan bejatku
yang tega menghamili buaya di kandang singa
adakah maaf kebinatangan itu kudapatkan
kembali dosa menjadi kelakar pada sajak ini
mungkin saja aku menghibur diri
sebab sudah terlalu lama aku lupa cara bertaubat
uh.. aku lalai dalam waktuku sendiri
setelah canda tawa dan kelakar sajak usai
aku lupa beristigfar
ternyata maut benar-benar datang
menghadapku dengan amarah
apa jadinya
saat nyawa tercabut meronta-ronta berdarah-darah
pintu maaf sudah terkunci rapat
mampukah aku bersajak tantang siksa kubur
dengan kelakar?
dengan canda tawa?
dengan setangkai mawar?
11.22.2008
Surat Cinta Yang Belum Terkirim
bagai detik waktu menjemputku dalam perenungan utuh perasaan
sambil bercerita lama kesunyian
kusadari..kau yang terindah ada untukku
wanitaku
sayap-sayap terbaikku
selalu setia membawaku terbang meninggi melewati hari-hari melelahkan
membawaku ketempat bahagia bersemayam
ketidaksempurnaan caramu mencintaiku
mengajarkan segenap nadiku untuk berkhayal tentang mu selalu
memasuki tempat terdalam
dimana hati harus kupahami sebagai tingkah yang tidak beraturan
selamat pagi cahaya
ada bintang ku titip di langit sebelah timur
silahkan kau jenguk ia dengan segenap rasa mu
semoga kau bisa merasakan apa yang kutuliskan adalah sebuah kebenaran
Perempuan Terakhir
aku masih sempat memuntahkan salahmu
melupakan perihnya dan akan menjadi kisah
tapi entah.. lakumu begitu mengusik
bahasa rindu mu sudah begitu kaku perempuan
tak mampu membuaiku seperti kecupan-kecupan awal pertemuan
inikah titik nadir pencarian, hingga pesona itu adalah angin..
tak mampu menggerakkan sehelai rambutpun dikepalaku
hinggaplah
diranting mana yang bisa
melihat nyata
atau akan terus membelah hari yang tidak semestinya
perempuan yang tersisa untukku
bawahlah aku semampumu
kemanapun kau menggiringku
kuturuti jika itu bisa membuat rasa memiiki itu kembali
11.21.2008
Duka Penyemir Sepatu
yang tunduk menuju bumi
lalu derai ia tanpa suara
pulangkan ibu ku satu-satunya teriakmu pada gundukkan tanah merah
kematian itu nak
seperti nyanyian yang akan selalu bergema di setiap kehidupan
pasti.. ia jua menghampirimu
jangan sesali seperti kau menyesali penderitaan tanpa ampun
ambil kotak semir sepatumu
mulai dengan memacu selaju-lajunya lari
dapati harapmu yang kau pancang jauh
Tuhan lebih tau apa yang pantas untukmu
Bersambung
mungkin tak ada sua
selalu dan akan selalu wajahku bercermin sendiri
dimana kau oh kehidupan di balik sana..
tinggi setingi-tinginya ku lambung harap
berjingkat sudah aku menjangkau diatas anak tangga terakhir
toh keterbatasan ini seperti gerimis
menghujan pelan-pelan hingga kuyup
tak pantas ada lelah
tapi.. yah sudah lah
capek bicara saja
tunggu tanggal mainnya ya..
Klimaks
memasuki ruang sunyi
bersenggama bersama waktu
hingga klimaks itu ku pahami sebagai sebuah pencapaian
birahi menjadi keakuan yang merdeka
sampai kutafsirkan sunyi seperti lentara menyala dalam pergantian waktu
memecahkan terang bersama hembusan angin yang gugur dari perbukitan
menyibak keheningan dengan menhentak-hentak keduabelah kaki ku sendiri
aku mencintai gairah hidup
yang bergerak menjalar
berani pasti menuju satu titik
tidak mati kedinginan
bahkan bangkit dalam kesadaran
memerdekaan perasaan pada setiap hembusan nafas
ini kutulis dinihari
mengajak keseluruhan rasa dan pikir yang masih terjaga
bukan sekedar cengkrama lalu bias
tapi pengakuan akan seperti apa hidup ini mengalir tanpa beban
seperti yang kau katakan..
"rasakan ia sepenuhnya milikmu, yah hidup pastikan ia adalah sebuah keutuhan sebelum kau mati"...
11.14.2008
RANAH NATA

Ranah Nata
sampai ke ubun-ubun
biarlah ia terus bergetar seirama denyut nadi
sampai ada terang menunjuk jalan
Kutitip rumah
Padamu di garis gulungan ombak
Biar ku semai kerinduan seperti badaimu dilautan
Sampai dendang mu yang memanggil pulang kutunaikan
PESAN-PESAN RESAH
Dari ruang sebelah sini
Tangis janin lagi
PATAH
Ada pesan
Dikirim bersama gulita
Remang-remang diusung dalam rintik hujan
JANIN MENCARI IBU DITENGAH MALAM
Duh manusia atau apalah..
Itu juga manusia
Yang kau keluarkan dari selangkangan bersama perih aliran darah
KODRATMU ADALAH IBU DAN HARUSNYA KAU TERISAK
Sudah sebegitukah manusia kehilangan rasa dalam kerakusan nafsu
Hingga kebiadaban itu masih jua terpelihara
Jangan kau letakkan ia di pembuangan sampah
YANG BINATANG SAJA TIDAK PERNAH MELAKUKANNYA
Itu yang ingin ku ucapkan diremang malam pada yang terluka
Begitu banyak cuplikan-culikan entah tanpa rasa
Datar begitu saja menjadi segerombolan mimpi
Menjelma disetiap nyanyian malam
Desah hujan
Menyadarkan gerak-gerak mu yang menindih dedaunan jati kering
Tanpa pesan menantang atau mundur
Sampai titik penyadaran itu membentuk menu-menu harahapan
Menjadi lekat kental
Deritamu ku genggam menjadi keajaiban kesadaran
Menandakan batas-batas perlawanan
Mari ibu tua berairmata
Ikat erat harap yang menjadi kekuatan maha dahsyat
Sunggingkan senyuman lalu ucapkan selamat tinggal pada penderitaan
Peringatan Terakhir
Membawa rima-rima duka sampai ke puncak tertinggi di hempas angin jadi debu hilang
Sampai tak berasa berwarna berbau mendengar melihat menjamah tidak
Tidak ada kutuk tidak ada murka dan tinggalah jalan panjang yang harus digulirkan riang
Sampai batas ini kita berhenti dan memulai
Damai yang kita tentukan sendiri mekarlah menjadi pepohonan-pepohonan teduh
Jangan lagi tenggelam dingin beku curiga dan ketakutan
seperti manusia dan manusia saling tuduh tanpa alasan tanpa sesal
ingatkan kepadamu kepadaku kepada kita
besok masih ada anak cucu yang akan menghuni tanah ini
wariskan mereka peradaban dan cinta
hingga dan hingga tidak ada lagi dentuman dan perpecahan
Cerita Cinta Sebelas Maret
kau melukaiku hingga diam
membekas berbunga
menyibak sayap-sayap putih diantara resahnya
menjadi luka terindah
diam aku bahagia dalam teduh tundukmu
kau sayat tipis kulit ariku menjadi gelora ragam rasa membuncah
ternyata cinta telah singgah tepat pada masanya
Awas Salah Kaprah
Menjaring gerak diam-diam
Memupuk kesembuhan murka
Menunjuk-nunjuk kedamaian
Melumat dendam dalam bara api suci
Menangis
Meledakkan
Mematikan
Jilid kelam yang sudah tuntas kawan
Mungkin itu Mungkin Iya Mungkin Tidak
Angkuh Serakah
Adalah ketidakseimbangan dan egoisme membelah manusia diantara layak dan tidak pantas menindas ketidakmampuan dan ketidaksanggupan
Mungkin Guru gila
Seperti Manusia tanpa salah
Adalah kesombongan berdiri ceramah menularkan segala perkara pengetahuan membabi buta kesetanan hingga muntah kesia-siaan,kebosanan,kejenuhan dan ketakutan
Mungkin jadilah Murid gila
Sebab sekolah gila dan guru gila bersekutu padu/tutup mata/tutup telinga/tutup mata tutup rasa.
11.02.2008
kepada Kawan Lama
di sisi waktu berlutut
menggeranyangai lembah-lembah menutupi iringan tnpa pemandu
sebab apa aku mengikut
ada bisik
di tengah-tengah kepundan gundah
pasang lah mata dan telinga
di sekitar ada lawan berseragam permata
lumbung-lumbung sudah terbakar
tinggal perapian selamat tinggal
terhenyak aku semakin dalam
ternyata benar kabar,
ada maling bersembunyi di saku celanaku
10.28.2008
Jalan Perenungan
ada kah kau sedih melihat kesedihan?
ada kah kau bahagia melihat kebahagian?
ada kah kau ingat Tuhan mu?
ada kah kau merasakan?
mengapa Pencipta di pertanyakan setelah kesedihan dan kebahagiaan?
sebab kesedihan dan kebahagianlah yang selalu jadi ingatan
hingga cintaNya sering kau akhirkan
aku adalah dan sebagainya dan seterusnya dan lain-lain
adalah aku
juga dan seterusnya
adalah aku
apakah dan lain-lain
masih juga aku
mungkin aku adalah dan sebagainya
atau aku adalah dan seterusnya
bisa juga aku adalah dan lain-lain
aku siapa?
dan seterusnya dan sebagainya dan lain-lain
sebuah defenisi logis kah?
jangan jawab
sebab ini adalah soal ku
siapa aku adalah hak ku menjawabnya
Tuhan Tidak Tidur
menelusup resah terjaga
sejurus mata menumbuk pancang waktu
pada mobil kaleng melaju kencang
menggantung setengah bangun
diatas keranjang sayur
ibu tua yang geli menahan dingin
tersendat nafasku
bersama embun
akal menyabarkan perasaan
dengarkan ini anak muda
Tuhan itu berbuat adil dua puluh empat jam
hingga sepagi ini rezeki pun masih ditabur
Antara Syair dan Penyair
aku menaruh harap pada malam menelikung gelap
mengikis apa saja
termasuklah cinta didalamnya
salah siapa camar menari di perbukitan
tak ingin menegur debur ombak
lebih manantang di pokok-pokok menjulang
pulang lah penyair berkelam-kelam
syair pun curiga
mengapa betah berlama-lama
sedangkan hidup tak ini saja
oh.. telah tergadai masa dalam semunya
10.27.2008
Bohong Itu...!!!
tak ada nuansa apapun mengelayut dalam dinggin
diwarung diskusi
ada sepotong sajak sedang bermain
memintal helai demi helai ocehan iblis
tidak bertenaga
raungan nada-nada penghibur seperti peminta-minta
begitu komunis bagian waktu yang disinggahi
seolah-olah kesedihan milik bersama
tapi pada nyata
seorang tua ditikam hujan tanpa apa-apa
ada politikus
ada mahasiswa
menhisap
menikmati malam dengan pongah
10.25.2008
Swasembada Dosa
hari ini dosa berpesta pora
mereka ramai sekali
ada yang senyum-senyum puas
ada yang tidur pulas setelah semalaman beranak pinak
tadi pagi negeri kami swasembada dosa
mungkin hampir musim kiamat
mayat bayi masuk tong sampah
salah apa mereka?
tidak tau apa-apa
kok tega-teganya manusia
anjing lah
siang ini panen dosa melimpah ruah
seperti pajak daging saja
kepala orang di tanam di ladang
kakinya hanyut di kali
badan di hempas angin di bawah jembatan
gak ada lagi kemanusiaan di sini
babi lah
10.24.2008
Puisi untuk Provokator
menyulut amarah
ada kedengkian yang menggetar
tinggal menunggu ketukan
ini putih
ini hitam
di tengah ada setan
membingungkan
perang yang kau inginkan?
kan sudah.!
perpecahan?
apa lagi
yah sudah, tolonglah
tinggalkan luka ini untuk sejenak berbenah
jangan rendam lagi wajah kotormu disini
binatang saja, ingin tempatnya damai
Persepsi
turuni saja satu-satu anak tangganya
aku tak ingin kau disembelih pagi
bukan kah malam ini kita masih ingin melihat bintang bersama?
mengapa lagi kau ini
tidak kah jalan itu buntu
sudahlah jinjing sepatumu
mari kita lari
sobat yang dirundung basah
rehatlah sejenak
kau tempuh pun belum tentu sampai
atau kau mau di gigit anjing di seberang jalan
cuci dulu kaki
besok matahari masih tiba
tuturkan pikir dalam bahasa yang seirama
setelah itu kita eja hari dengan hentak langkah yang sama
10.23.2008
Perempuan dan Ajal
sembilu menyibak
teriak cinta membahana
tentang segumpal darah hidup di rahim
mungkinkah sempat air mata membasah
di kening yang masih merah
geraham mengguncang saling mengapit
nyawa sesak menuju surga
lengkingan terakhir
aroma kematian membelah semesta
kesakitan terbawa
ketuban berontak membuncah di akhir
hanya sunyi dan gelengan kepala
dua sudah terbawa
betapa di tengah, antara kematian dan hidup
terimalah kabar duka
wanita bercahaya di pembaringan
bersama ajal
tiba lah takdir
ibu dan anak bersua di surga
Entah Apa Namanya
terlalu kumuh kau menelantar di belantara
entah anjing apa yang sudah menjilati nafasmu
bahkan lenguhmu pun sudah berbau
bangkai yang hendak kau pertaruhkan dengan ku
cukup kau suguhi aku dengan dalil-dalil laknat
setelah itu kau cari kubur mu sendiri
lalu papah kerandamu dengan burukmu
apa yang ingin kau bawa untukku
sepasang payudara yang tergadai
atau anting yang tertindih ribuan nama
cari jalanmu
mungkin aku tak pantas jadi imam mu
Sebab Tuhan yang Mencipta
berzinalah
jika tak menganggap dosa
sebab Tuhan yang mencipta