3.30.2009

Jalan Lain

ini kalanya terpinggir musim
kuyup bersama angsa pulang ke tepian
ikut terbawa permainan hujan
yang rintik di daun mata bersilauan

deras ia menindih mati kaki
lalu menghayut fikir yang terbentur jalan
oh.. aku yang merenangi nasib
kehilangan cara untuk bertahan

sementara aku berlabuh di lumpur
teruskanlah doa memapah harap
mungkin aku memilih jalan
dalam daratan yang tersisa

12 komentar:

moenthe carlo mengatakan...

aku copy puisi abang ni ya,
aku post di blog ku,
boleh kan ???
gak boleh juga akan tetap kuambil,
hehehehe...
(dijaga ke originalannya)

-peace-

Anonim mengatakan...

salut.. mantap x lae tulisanmu.. bebas, brani dan liar

ARIEF FIRHANUSA mengatakan...

cara untuk bertahan ada di setiap persimpangan
yang menciptakan bimbang dan perih
adalah gencar matahari yang menuntun kita
agar tetap mampu memilin dan memilih
danau seperti apa yang mengapungkan asa

Irwan Bajang mengatakan...

hmmm...saya suka puisi2 di blog ini
aduh musiknya bikin saya ingat sesuatu..

cahaya matamu..
sebuah laguyang indah, asik bertandang ke sini..
lain kali, saya pasti baca2 dan mengapresiasi lagi, main juga ke rumah saya...di http://sketsabajang.co.cc


salam kenal ya..
salam hangat selalu

wahyudi my mengatakan...

salam,sobat.


saya link blg ini.
jika keberatan,khabarkan saja ya :)

wahyudi my mengatakan...

salam,sobat.


saya link blg ini.
jika keberatan,khabarkan saja ya :)

timur matahari mengatakan...

untuk adinda Fai :
silahkan.. tidak mengapa,.. ini semua bwt kita..

timur matahari mengatakan...

untuk ARIEF FIRHANUSA:
thanks mas.. persimpangan itu telah memberi pengertian tentang jalan dan pilihan..

timur matahari mengatakan...

untuk irwan bajang:
trims kawan.. apresasinya.. saya pasti akan bertandang juga..

timur matahari mengatakan...

untuk Wahyudi My:
thanks kawan.. tidak mengapa.. nanti saya juga link balik..

goresan pena mengatakan...

ahh..
jalan kita masih panjang, bung..!

timur matahari mengatakan...

untuk Goresan Pena
benar kawan... masih sangat panjang