11.03.2009

dari kedalaman

Dari satu peristiwa ke peristiwa ia berlari dengan kaki pecah, sementara di kedua belah tangannya ia masih saja setia menggenggam keinginan untuk anak-anaknya, untuk tidak menangis ketika malam telah membunuh seluruh sepi. demi secangkir dan sesuap kesempatan.

*****

satu perjalanan, bumi atau bulan atau selaksa perih pedih, hewan-hewan, gugur bunga, setelah gerimis pecah, gunung-gunung, liang-liang lahat, purcama atau berarti, tenang atau galau, hingga tiba masanya menunggu satu kreta malam, menuju kota-kota, berziarah dalam kelam dalam sunyi, untuk menemukan sesuatu yang berada diluar dirinya, tentang senandung anak-anak pencari sampah, anak-anak penyanyi musim, anak-anak hujan dan badai, demi sejumput keinginan yang berserakan, lalu satu memisahkan diri, pulang kembali, letih terlelap, dalam air dari matanya, yang jatuh pada lelahnya jalanan yang tak henti saling membunuh.

2 komentar:

Kang Eko mengatakan...

tulisannya bagus, meski tak pandai meng apresiasi tapi saya merasakan cantik tulisan tulisan mas timur....


pf: maaf mas, blog anda menjadi blog yang saya ikuti di blog saya.

Zairasyh Azziti mengatakan...

Bro tulisamu penuh etnik..
Senandung puisi nan apik..
lukisan hati nan cantik..
walau entah makna apa kau lentik..
karna rangkai baitmu aga sulit ditelisik..
dan sayapun bukan sastrawati terdidik..

Kunjungi blog saya juga yup dalam sisihan detik.. ^_^